Minggu, 08 Januari 2012

Tahun Baru, Harapan Baru* oleh Ali Rif'an**

Lembaran tahun 2011 baru saja ditutup. Kini saatnya bangsa Indonesia memasuki babak baru tahun 2012. Tahun baru menghadirkan semangat baru. Semangat baru, tulis Eric Fromm (1996), adalah cermin adanya harapan. Harapan adalah mimpi terbentang yang kemudian membuahkan motivasi. Harapan adalah daya dobrak yang membuat manusia senantiasa melangkah dan bergerak.

Tokoh reformasi Amien Rais, sebagaimana dikutip Boni Hargens, merumuskan lima masalah utama Indonesia di tahun 2011, yakni ledakan jumlah penduduk dunia (population explosion), krisis pangan (food crisis), krisis energi (energy crisis), perusakan lingkungan (ecological destruction), dan krisis peradaban (crisis of civilization). Di tahun kelinci itu, permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia tidaklah sedikit. Pada ranah sosial, misalnya, ketimpangan antara si miskin dan si kaya masih begitu tampak nyata.

Meledaknya jumlah penduduk yang terus bertambah tidak diimbangi dengan infrastruktur yang baik dan lapangan kerja yang memadai. Selain itu, ketegangan dan konfl ik berdarah Indonesia juga terus terjadi di mana-mana. Belum selesai kasus Mesuji dan Bima, kini disusul kasus pembakaran di Sampang, Madura. Dengan kata lain, kita sesungguhnya masih bermasalah dengan kebebasan sipil dan keberagaman.

Pada ranah ekonomi, kemiskinan dan pengangguran masih jauh dari harapan yang dicitakan. Daya beli rata-rata masyarakat kita masih rendah, komoditas pertanian menurun karena kebijakan pemerintah kurang memihak kepada sektor pertanian kecil. Perekomomian Indonesia adalah perekonomian yang telah dibajak oleh luar negeri. Penduduk Indonesia adalah masyarakat miskin dalam negeri yang kaya.

Pada ranah hukum, kita punya segudang masalah korupsi yang tak kunjung tuntas. Banyak kasus yang muncul, kemudian menghilang begitu saja. Kasus Century, BLBI, dan Wisma Atlet, misalnya, yang kehadirannya menggegerkan publik kini lambat-lambat semakin tenggelam. Dengan kata lain, perilaku dan mental para penegak hukum kita yang tidak sejalan dengan semangat reformasi.

Kasus jual-beli undang-undang, suap aparat penegak hukum, dan penbajakan rumah tahanan (rutan) segelintir orang yang berduit masih menjadi cacatan buram di tahun 2011. Di ranah politik, misalnya, politik Indonesia menjadi semakin banal karena diisi oleh orang-orang yang hanya mengejar keuntungan pribadi daan kelompok. Lihat saja, konflik elite sering terjadi sehingga politik menjadi medan pertarungan kekuasaan semata.

Seperti kata Boni Hargens, koalisi politik dan manuver lain di parlemen didominasi oleh para kartel politik, sehingga ketidakstabilan dan turbulensi politik selalu terjadi. Energi pemerintah dan parlemen terkuras untuk masalah elitis yang tidak bersentuhan dengan kehidupan rakyat. Pada ranah keamanan, kepolisian dan aparat kita masih meninggalkan banyak catatan. Kinerja polisi dan tentara belum optimal.

Para aparat negara-termasuk Satpol PP-selama ini tampak belum juga mampu menghilangkan sikap militernya. Kontras, misalnya, mencatat bahwa sepanjang 2010-Juni 2011, telah terjadi 85 kali peristiwa kekerasan oleh anggota Polri. Jumlah korban sebanyak 373 orang. Itu baru angka yang tercatat karena korban dan peristiwa sesungguhnya juga bisa jadi jauh lebih banyak dari itu.

Terbukti, misalnya, dalam kasus penyerangan terhadap Ahmadiyah atau pembakaran rumah ibadah, ataupun sengketa lahan yang belakangan marak terjadi, para aparat belum menjadi tentara rakyat alias masih menjadi tentara penguasa atau tentara pengusaha seperti dalam kasus Freeport atau dalam penanganan konflik Papua (OPM) secara keseluruhan. Tentu saja, hal ini bertentangan dengan komitmen Polri yang telah menerapkan Perkap No 8/2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam penyelenggaraan tugas kepolisian.

Ranah pendidikan juga masih menyedihkan. Harus diakui, metode pembelajaran perguruan tinggi (PT) di Indonesia sesungguhnya belum mengacu pada pendidikan orang dewasa. Ciri pendidikan orang dewasa adalah mengutamakan penggalian, pendalaman, pengembangan, bukan sekadar menghafal. Meminjam istilah Russel (1984), pendidikan orang dewasa adalah suatu pendidikan yang mensyaratkan bahan ajar yang mencakup konsep baru, orientasi individual, berbentuk self instructional, dan volume belajar bergantung pada kemampuan mahasiswa.

Konsepnya, para sarjana diproyeksikan tidak hanya menangkap informasi, tetapi mencari informasi, tidak hanya mampu menerima ilmu pengetahuan, tetapi harus menemukan ilmu pengetahuan. Di dalam pendidikan orang dewasa, para sarjana dituntut tidak hanya mampu menjawab persoalan dirinya sendiri, tetapi juga bangsanya, seperti meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan malah menjadi beban masyarakat. Kini alih-alih mengatasi problem masyarakat, untuk mengatasi problem sendiri saja-seperti pencarian kerja-sarjana kita masih "kelabakan".

Harapan 2012

Memasuki tahun 2012, Indonesia diharapkan mampu mengatasi segala persoalan kebangsaan di atas. Tahun baru tidaklah sekadar dimaknai sebagai perhelatan kembang api di langit kota-kota besar di Indonesia. Tapi, esensi terpenting di dalamnya adalah kita harus mampu merefl eksikan segala kesalahan, melakukan otokritik dan telaah kolektif, agar di tahun berikutnya menjadi lebih baik.

Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hemat penulis, terdapat dua masalah besar kebangsaan ke depan yang harus menjadi prioritas, yakni permasalahan penegakan hukum dan pembangunan moral bangsa. Jika dua permasalahan ini tidak segera diatasi, susah mengharapkan negara ini akan segera maju, sebab masalah hukum dan moral adalah pangkal dari masalah-masalah yang akan timbul lainnya.

Masalah hukum erat kaitannya dengan pembangunan struktur negara dari luar, sementara masalah moral adalah pembangun struktur negara dari dalam. Tentu saja, pembangunan tersebut akan terlaksana jika kita selalu optimis menatap Indonesia ke depan. Kita harus menjadi anak bangsa yang mampu menyelaraskan antara katakata dan perbuatan. Satu kata, satu perbuatan!

Seperti kata filsuf Jerman, Friedrich Nietzche, kunci keberhasilan bangsa ditentukan oleh komitmen menghidupkan dan menyalakan kata-kata menjadi kata kerja (tindakan nyata).

*Peneliti di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

** Terbit di Koran Jakarta, 2 Januari 2012



1 komentar:

selimut mengatakan...

Sudah tahun 2016 dan kasus korupsi masih ada. Apakah benar korupsi bisa tuntas diberantas? Saya kurang yakin krn itu berhubungan dengan salah satu sifat dasar manusia yaitu tamak/rakus..

Posting Komentar