Kamis, 08 September 2011

Gelar Doktor dan Etika Sosial

Penganugerahan gelar doktor kehormatan (honoris causa/HC) kepada Raja Arab Saudi oleh Universitas Indonesia (UI) menuai pro dan kontra. Rektor UI Prof Dr Gumilar Rusliwa Somantri, yang memberikan gelar tersebut kepada Raja Abdullah bin Abdul-Azis, 21 Agustus 2011 lalu di Istana Kerajaan Arab Saudi, diprotes banyak kalangan di dalam negeri.

Munculnya protes tersebut paling tidak didasarkan pada dua alasan. Pertama, dalam beberapa tahun terakhir ini, eksistensi Arab Saudi di Indonesia sedang kurang populer. Ada dua masalah yang menjadi penyebabnya, soal haji dan kasus pelecehan terhadap TKI yang bekerja di negara minyak tersebut.

Kedua, di dalam internal Universitas Indonesia (UI) sendiri, Gumilar dianggap kerap mengeluarkan kebijakan yang kontroversial dan tanpa mengindahkan musyawarah, seperti kurang adanya transparansi dalam hal keuangan kampus dan sepihak dalam pengambilan keputusan. Pemberian gelar doktor HC kepada Raja Arab adalah puncaknya.

Secara akademis, sebenarnya tak ada yang salah dengan pemberian gelar doktor HC kepada Raja Arab Saudi oleh Universitas Indonesia (UI). Gumilar memberikan gelar itu karena Raja Abdullah dianggap telah berkontribusi dalam mempromosikan pengajaran Islam yang moderat, mendukung perdamaian Palestina, dan menginisiasi dialog antar-agama.

Raja Abdullah juga dikenal memiliki pandangan yang inklusif terhadapa agama lain. Hal itu dibuktikannya dengan kunjungan bersejarah dan bertemu dengan Paus Benedictus di Vatikan pada 6 November 2007. Lalu pada 4-6 November 2008, di tempat yang sama, digelar dialog Islam-Kristen. Selain itu, di tahun yang sama, Raja Abdullah memprakarsai penyelenggaraan dialog antar-agama di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.

Meski memiliki rekam jejak yang konstruktif terhadap kehidupan kemanusiaan-seperti dialog antar-agama dan demokrasi--, menurut beberapa kalangan, termasuk kalangan internal UI, gelar doktor HC tidak pantas diberikan kepada Raja Abdullah. Raja Arab tersebut dinilai tidak berperikemanusiaan dalam kasus TKI.

Karena itu, sebagai penjaga gawang UI, Gumilar dituding tidak mempertimbangkan berbagai praktik di Saudi Arabia yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu kasus yang mendapat perhatian besar adalah ketidakpedulian pemerintah Arab Saudi terhadap nasib tenaga kerja asal Indonesia (TKI). Tidak sedikit TKI yang mendapatkan perlakuan tidak manusiawi. Ruyati, misalnya, yang dihukum pancung pada Juni lalu. Praktik hukum pancung ini sebenarnya telah dikritik oleh banyak pihak, termasuk dari Amnesti Internasional yang malah meminta Arab Saudi menghentikannya.

Tentu saja gelar doktor HC ini berbeda dengan yang diberikan kepada tokoh-tokoh di Indonesia semisal BJ Habibie, Rosihan Anwar, Mustofa Bisri (Gus Mus), Sahal Mahfud, Soekarno, Ajip Rosidi, dan Hermawan. Habibie, misalnya, dinilai pantas mendapatkan doktor HC karena penemuan-penemuannya yang spektakuler tentang teknologi. Ia juga mengabdikan hidupnya pada pembangunan teknologi di Indonesia.

Sementara Rosihan Anwar dinilai sangat besar kontribusinya dalam peta jurnalistik di Indonesia. Gus Mus dikenal sebagai kiai yang selalu memperjuangkan toleransi dan perdamaian. Sedangkan Sahal Mahfud adalah kiai salaf yang berpikiran modern dan selalu menyuarakan pentingnya kontekstualisasi ilmu fiqih. Di tangan Kiai Sahal inilah lahir apa yang disebut dengan "fiqih kontemprer".

Adapun Soekarno adalah nasionalis Indonesia yang tak ada duanya. Semangat Soekarno dalam mengobarkan "api Islam" itulah yang membuatnya diberi gelar kehormatan oleh IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN). Sementara Ajip Rosidi dinilai pantas mendapatkan doktor HC berkat kontribusinya dalam pelestarian budaya (Sunda). Hermawan dikenal sebagai pakar yang sangat mumpuni dalam mengebangkan ilmu pemasaran (marketing).

Sebenarnya, gelar doktor itu ada dua. Pertama, gelar doktor akademis, yakni doktor yang diperoleh atau diberikan kepada seseorang yang telah dinyatakan lulus dalam ujian disertasi secara bertahap. Paling tidak, ada tiga tahap pemerolehan gelar doktor, yaitu ujian proposal, ujian tertutup, dan ujian terbuka.

Biasanya, sebelum menempuh ujian terbuka, kandidat doktor diwajibkan menyajikan hasil penelitiannya, baik dalam forum ilmiah maupun melalui jurnal ilmiah terakreditasi. Kedua, gelar doktor kehormatan (honoris causa). Gelar doktor ini diperoleh karena penghargaan yang diberikan PT atas kiprah dan kontribusinya dalam bidang ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.

Pada titik inilah penganugerahan gelar kehormatan kepada Raja Abdullah tidak selaras dengan etika sosial dan kiprahnya dalam bidang kemanusiaan, khususnya di Indonesia. Harus diakui, hukum adalah bagian dari ilmu sosial kemasyarakatan itu sendiri. Penerapan hukum pancung, baik dari segi etika, moral, maupun kemanusiaan, tentu saja tidak sesuai dengan pandangan bangsa Indonesia.

Sehingga cukup mengherankan hal-hal yang sensitif itu tidak menjadi pertimbangan dalam pemberian penghargaan tersebut. Karena itu, kontroversi terhadap penganugerahan doktor HC kepada Raja Abdullah tidak perlu terjadi jika etika sosial diperhatikan oleh Profesor Gumilar--selaku penjaga gawang sah kampus ternama Universitas Indonesia.


Dikutip dari catatan Ali Rif'an
Selengkapnya...

Ke-Tuhanan dalam Diri Manusia

"Tuhan" ada banyak konsep yang mendasari kata ini hingga banyak terjemahan dari kata yang tertulis hanya dengan satu suku kata tersebut, beberapa konsep untuk merujuk kata Tuhan adalah konsep mono teisme, konsep polyteisme. Kata Tuhan merujuk pada suatu zat yang abadi dan supranatural biasanya dikatakan menguasai, mengawasi dan memerintah jagad raya ini. Meskipun di setiap peradapan pengertian dan pemahaman akan konsep tuhan tidak sama sehingga banyak konsep yang berbeda untuk memahami kata tuhan tetapi pada garis besarnya sama seperti yang mencoba saya uraikan di atas tadi yaitu pengatur dan penguasa alam semesta ini. Konsep mono teisme lebih di kenal dengan konsep tradisi yang di bawa oleh Abraham/Ibrahim/Avram yaitu mengakui adanya konsep satu tuhan walaupun berbeda dalam penyebutannya pada setiap peradaban misal Allah, Yahweh. Konsep politeisme berasal dari kata yunani poly dan theoi adalah mengakui adanya lebih dari satu tuhan yang menguasai alam semesta. Politeisme di Indonesia lebih di kenal dengan konsep dewa yang menggambarkan beberapa atau lebih dari satu tuhan. Walaupun secara arti keduanya sama yaitu untuk menyebut suatu zat yang abadi dan supra natural tetapi di Indonesia apabila menyebut dewa secara otomatis mengkonotasikan polyteisme sedangkan penyebutan tuhan hanya untuk kepercayaan monoteisme. Sejak zaman sebelum masehi hingga sekarang selalu ada sebuah kepercayaan manusia yang mengarah kepada zat yang di anggap supranatural sebagai tuhan baik berbentuk secara kasat mata maupun tidak.

Banyak pertanyaan dari manusia itu sendiri “ Apakah tuhan itu ada ? “. Menurut Nietzsche, istilah tuhan merujuk pada segala sesuatu yang di anggap mutlak kebenarannya, sedangkan Nietzsche berpendapat bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak yang ada adalah kesalahan yang tak terbantahkan, karena itu dia berkata bahwa tuhan telah mati. Sedangkan dalam bukunya kuliah tauhid Muhammad imaduddin abdulrahim mendefinisikan tuhan sebagai segala sesuatu yang di anggap penting dan di pentingkan sehingga dirinya rela di dominasi. Dari makna tentang tuhan yang di cetuskan manusia tidak sekedar dua hal tersebut tetapi masih banyak lagi definisi tentang tuhan. Berbagai pendefinisian tuhan tersebut merupakan proses pencarian manusia terhadap sebuah keyakinan yang akan dia pegang dalam hidupnya. Proses pencarian manusia tidak akan berhenti selama waktu masih berjalan karena dalam alam pemikiran manusia yang tidak terbatas akan menghasilkan berbagai konsep atau pun dia menemukan sebuah konsep pengertian akan tuhan yang sesuai dengan apa yang ada di hatinya sehingga dia dapat mempercayai konsep itu. Saya yakin andapun mempunyai ataupun mempercayai konsep arti ketuhan yang sesuai dengan dasar pemikiran anda sendiri.

Menurut saya konsep ketuhanan berawal dari dasar manusia itu sendiri yang merupakan makluk sosial dia tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Dari konsep itu dasar saya menjelaskan munculnya tuhan dalam diri manusia yaitu di setiap hidup manusia memerlukan pegangan untuk dia bertahan dalam hal ini adalah pegangan secara spiritual. Disaat dia merasakan sebuah perasaan yang manusia lain tidak bisa merasakannya dia membutuhkan zat yang lebih kuat, lebih mengerti serta dapat memahami apa yang dia rasakan dan dapat di jadikan sebagai tumpuan perasaannya tersebut, dalam hal itu munculah sebuah pertanyaan dalam hatinya, “kemanakah akan aku bawa perasaanku ini ?”. Dari pemikiran itu maka munculah pemikiran bahwa dia memerlukan sesuatu zat yang maha kuasa, abadi dan supra natural. Disitulah muncul konsep tuhan yang maha segalanya untuk dapat mengerti perasaan yang dia rasakan, dapat memberikan rasa aman, perlindungan, pengayoman bahkan hingga mampu memberikan pemecahan dalam perasaan yang dia hadapi, saat itulah tuhan muncul dalam pikirannya. Jadi dalam pengertian saya tuhan itu hadir dari pikiran dan perasaan manusia itu sendiri yang selalu membutuhkan pengayoman atau pertolongan dalam hidupnya.

Saya tidak mempercayai konsep ateisme yang menyatakan bahwa tuhan itu tidak ada dan mereka tidak mempercayai akan adanya tuhan karena dalam hidupnya manusia selalu membutuhkan pegangan serta dorongan spiritual dalam hidupnya. Menurut pemikiran saya manusia yang tidak mempercayai tuhan hanyalah sebuah proses itu sendiri untuk mendapatkan apa yang di maksud tuhan sesuai konsep yang ada dalam benaknya. Dalam ketidak percayaanya dia selalu mencari untuk memaknai tuhannya yang seperti dia inginkan. Proses tersebut memang tidak pendek tetapi dalam proses pencarian itu dia berusaha meyakinkan terhadap dirinya sebuah keyakinan yang dia mencoba memasuki. Ketuhanan menurut saya berbeda dengan agama, tetapi tuhan adalah zat yang istimewa dan di istimewakan, luar biasa, abadi, supranatural sehingga menjadi pegangannya dalam hidup sehingga maupun memberikan dorongan yang kuat dalam hati dan pikirannya. Sedangka agama merupakan sebuah konsep yang mengatur daripada konsep ketuhanan itu sendiri, sehingga mengatur dalam penyebutan tuhan tatacara pemujaan tuhan dan lain sebagainya. Walaupun berbeda secara tata cara pengabdian, penyebutan kepada tuhan sebenarnya berakar ke satu tujuan yang sama yaitu TUHAN.

Selengkapnya...

Jumat, 19 Agustus 2011

Puasa dan Kemerdekaan

Bagi masyarakat muslim Indonesia, bulan Agustus kali ini memiliki makna berbeda, yakni menjalankan ibadah bulan puasa sekaligus memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66. Dalam kontek tersebut—baik bulan Ramadhan maupun 17 Agustus—keduanya menghadirkan momentum yang bertemu pada satu titik, yaitu kemerdekaan. Hanya saja, konteks kemerdekaan yang terkadung di dalamnya berbeda. Tujuh belas Agustus bisa dibilang sebagai kemerdekaan yang berupa fisik, sementara Ramadhan lebih identik dengan kemerdekaan non-fisik.

Kemerdekaan fisik tujuh belas Agustus tercermin dari terbebasnya rakyat Indonesia dari cengkraman para kaum kolonial. Kemerdekaan dalam konteks ini lebih diorientasikan bagaimana rakyat Indonesia tidak lagi ditindas dan dijajah oleh bangsa asing, bagaimana kekayaan alam tidak lagi dikuras oleh para penjajah, rakyat Indonesia bisa sejahtera, mempunyai papan, sandang dan pangan yang layak, dan seterusnya.

Sedangkan kemerdekaan yang diusung dalam bulan Ramadhan adalah kemerdekaan jiwa, ruh, dan mental-spiritual. Puasa pada dasarnya merupakan kekuatan pembebas (liberating power) dari belenggu penjajahan. Penjajahan dalam konteks puasa lekat dengan hal-hal yang berkategori ruhani, seperti suka berbohong, berhianat, mencela, korupsi, maling, sombong, menang sendiri, bertindak sewenang-wenang, anarkis, dan lain sebagainya.

Kemerdekaan Mendesak

Pada saat ini, kemerdekaan mendesak yang harus segera diwujudkan adalah kemerdekaan Ramadhan (kemerdekaan ruhani). Spirit kemerdekaan yang terkandung dalam bulan Ramadhan selayaknya ditancapkan dalam setiap segi-dimensi kehidupan berbangsa. Sebab, kemerdekaan fisik sudah tampak dengan terbebasnya rakyat Indonesia dari belenggu, pengangkangan, dan penindasan oleh bangsa asing. Sementara kemerdekaan ruhani masih mengundang “tanda tanya besar”. Karena harus diakui, menjubelnya permasalahan yang belakangan menimpa bangsa ini menandakan bahwa ruhani kita masih terjajah. Artinya, kekacauan diri akan berimplikasi pada kekacauan sistem dan tatanan dalam masyarakat, bangsa dan negara. Karena sebuah masyarakat, bangsa dan negara dibangun oleh individu-individu di dalamnya.

Kita bisa saksikan pada level pejabat publik dan elite politik, kasus korupsi dan suap kini kian merajalela. Kasus Gayus dan Nazaruddin yang kini sedang menjadi bola panas adalah potret bahwa kondisi moral para petinggi pejabat kita masih sakit. Ini belum kasus korupsi yang mendera para elite pemerintah disegala bidang. Bayangkan saja, sepanjang 2004-2011, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat sebanyak 158 kasus korupsi yang menimpa kepala daerah yang terdiri atas gubernur, bupati, dan wali kota. Sementara dari kurun waktu 2008-2011, sedikitnya terdapat 42 anggota DPR terseret kasus korupsi (Kompas, 20/6). Data dari Pusat Kajian Antikorupsi Fakultas Hukum UGM (Pukat Korupsi) juga menyebutkan bahwa pada medium 2010, Indonesia mendapati 124 kasus korupsi. Ironisnya, pelaku tindak koruptif tersebut paling banyak dilakukan oleh para pejabat negara.

Tak berhenti di situ, kontestasi politik kita belakangan pun disuguhi tontonan yang memalukan, seperti pertikaian para elite politik, antarpartai politik dan internal partai politik, penyalahgunaan wewenang dan jabatan, atapun merebaknya politik uang di arena pilkada. Kenapa semua itu terjadi? Karena hati dan jiwa sebagian besar masyarakat kita masih terjajah. Dengan terjajahnya hati dan runani, seseorang akan berjalan tidak stabil, kacau, dan cenderung menuruti nalar hewani. Untuk itu, puasa disyariatkan tidak lain dan tidak bukan adalah untuk membabat habis mental dan hati yang rusak tersebut. Tujuan puasa adalah membebaskan jiwa atau hati (qolb) dari penyakit-penyakit ruhani. Puasa mampu mendorong manusia untuk mempraktikkan perilaku tidak koruptif, mengendalikan diri dari segala sifat hewan, dan mencari hakikat kebenaran yang transendental.

Puasa mendesak kita untuk bisa kembali kepada fitrah sebagai manusia seutuhnya. Eksistensi kesederhanaan dan kejujuran yang memang merupakan sifat dasar manusiawi. Islam memang agama yang tidak menentang kepemilikan harta dan pemenuhan hasrat duniawi, namun spirit ketauhidan menginterupsi hasrat kita berlaku adil dalam menciptakan kesalihan sosial. Puasa juga menghadirkan pendidikan berupa latihan agar dalam memenuhi aneka dorongan tubuh terarah ke jalan yang benar, tidak melanggar etika sosial keagamaan, dan tidak melanggar harmoni kehidupan sosial kemasyarakatan. Melalui puasa, kita akan menemukan kolerasi dan koherensi antara tujuan mulia kemanusiaan dan kenegaraan dengan jalan menjauhi pembohongan, ketidakadilan, demoralisasi, dan intoleransi.

Inti puasa adalah mencipta manusia agar menjadi lebih baik dan sempurna. Seperti ulat ketika hendak menjadi kupu-kupu yang indah, ia harus berpuasa terlebih dahulu dengan menjadi kepompong. Karena itu, puasa dalam Islam bertujuan untuk mencapai tingkat ketakwaan setinggi-tingginya guna melahirkan kesalehan sosial. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Takwa, sebagaimana dikatakan cendekiawan muslim Azyumardi Azra (2011), merupakan salah satu maqom spiritual tertinggi dalam Islam. Mereka yang mencapai maqom ini akan terpelihara dalam segenap pemikiran dan perbuatannya dari hal-hal yang melanggar syariat.

Untuk itu, mari kita jadikan bulan Ramadhan kali ini tidak hanya sekadar menjadi ritual yang kaku dan beku. Kita jadikan ibadah puasa sebagai oase yang menyirami kita dari segala kegersangan yang mendera. Hakikat puasa adalah untuk menahan hawa nafsu. Esensi Ramadhan seharusnya menjadi titik tolak kemerdekaan. Sebuah kemerdekaan hakiki yang akan mampu mengentaskan bangsa ini dari segala keterpurukan.

Selengkapnya...

Pemimpin Peradaban

Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam adalah pionir peradaban paling sukses sepanjang sejarah ummat manusia. Di zaman akhir ini, kiranya tak ada peradaban yang tak diwarnai ajaran beliau. Politeisme, misalnya, kini kurang laku. Yang terlanjur punya banyak aktor tuhan dalam kanunnya lantas menafsirkan ulang kanun itu dengan berbagai alur falsafah yang mengarah pada ke-tuhan-esa-an. Demikian pula tak ada lagi yang menganggap ras atau jender sebagai dasar pembedaan derajat manusia, kecuali segelintir golongan kurang waras seperti neo-nazi dan Yahudi kuper. Ngaku-nggak-ngaku, dalam skala sejarah peradaban, pemicu berkembangnya nilai-nilai mulia itu dalam peri hidup ummat manusia secara keseluruhan adalah dakwah Kanjeng Nabi MuhammadShallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Selain bimbingan wahyu, penentu sukses beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam—adalah posisi moral beliau sendiri sebagai pribadi. Beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam—menetapi otoritas moral absolut pada setiap huruf yang beliau wedharkan. Mengapa? Karena, apa pun yang beliau perintah atau anjurkan, beliau sendiri –Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam—telah mengamalkannya dengan sempurna. Apa pun yang beliau larang, beliau sendiri –Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam—telah total menahan diri darinya. Rumus dasar dakwah beliau adalah: “Lakukan seperti yang kulakukan!”: “Sholluu kamaa roaitumuunii ushollii”, sholatlah kalian seperti kalian melihat (cara)-ku sholat; “Khudzuu ‘annii manaasikakum”, ambillah (contoh) dariku tata cara ibadah (haji) kalian; dan seterusnya.

Dalam skala yang jauh lebih kecil, Nahdlatul Ulama boleh dikata telah berhasil pula mapan sebagai “peradaban” tersendiri. Keyakinan akan doa dan wasilah orang-orang sholih untuk segala urusan, penghormatan terhadap orang‘alim, memelihara ikatan batin kepada mereka yang telah wafat, adalah elemen-lemen ajaran yang telah menyublim menjadi naluri keberagamaan mayoritas kaum muslimin di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, jam’iyyah ini didirikan dan diimami oleh Hadlaratusysyaikh Muhammad Hasyim Asy’ariradliyallaahu ‘anh. Beliau adalah murid dari Hadlaratusysyaikh Muhammad Kholil Bangkalan radliyallaahu ‘anh.Kepada Sang Guru itulah beliau memohon ijin sebelum mendirikan jam’iyyah kita ini. Boleh dikata, Mbah Hasyim adalah pompa air, sedangkan Syaikhona Kholil sumurnya.

“Telah datang seseorang dengan membawa anaknya kepada Syaikhona Kholil Bangkalan rodliyallaahu ‘anh kemudian mengeluhkan kelainan anaknya yang gemar makan gula secara berlebihan hingga menghabiskan berkilo-kilo dari gula itu tiap harinya dan dia memohon nasihat dan barokah Syaikhona untuk anaknya itu. Maka kemudian Syaikhona ­– rodliyallaahu ‘anh—tidaklah serta-merta memenuhi hajat orang itu dan sesungguhnyalah beliau berkata kepada orang itu akan hendaknya pulanglah keduanya (terlebih dahulu) agar supaya keduanya kembali lagi satu pekan kemudian. Maka kedua orang (anak-beranak) itu (pulang terlebih dahulu kemudian) kembali kepada Syaikhona setelah satu pekan. Maka Syaikhona berkata kepada si anak: “Wahai Anak, janganlah engkau suka makan gula”. Maka dengan izin Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sejak saat itu menjauhilah anak itu akan gula. Maka orang itu heran akan mengapa untuk jawaban sederhana itu harus menunggu selama satu pekan. Maka ditanyalah Syaikhona rodliyallaahu ‘anhtentang hal itu, maka beliau berkata: “Sesungguhnya adalah diriku (sebelumnya) banyak makan gula maka aku berhenti (makan banyak gula) sebelum satu pekan itu” – rowaahu Nur Hasyim S. Anam .

Dewasa ini ada begitu banyak pendakwah agama yang diminati orang ramai, tapi kita toh bertanya-tanya sejauh mana dakwah gencar itu meninggalkan jejak pada akhlaq masyarakat. Barangkali karena nyaris tak kita temui lagi pendakwah seperti Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan radliyallaahu ‘anh yang teguh memegangi rumus dakwah Kangjeng Nabi MuhammadShallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Sebaliknya, kegetolan untuk mengejar kekayaan dengan segala cara tampaknya justru telah mapan menjadi “elemen peradaban” kita. Kalau dipikir-pikir, itu wajar saja. Tiga puluh dua tahun Soeharto telah mendakwahi kita dengan semangat itu. Dan, sebelum Soeharto menganjur-nganjurkan kita untuk berjuang meraih kekayaan, dia sudah kaya duluan!

Sumber

Selengkapnya...

Jumat, 29 Juli 2011

Masuk UI, Dia Kayuh Sepeda dari Pati ke Depok Zalaluddin: "Itu janji saya kepada Sang Pencipta dan juga teman-teman."



VIVAnews - Janji adalah hutang yang harus dibayar. Karena janji itu jualah, Zalaluddin rela mengayuh sepeda dari Pati, Jawa Tengah, sampai ke Depok, Jawa Barat. Perjalanan bersepeda sejauh 600 kilometer lebih itu ditempuh Zalal untuk menggenapi nazarnya jika ia diterima di Universitas Negeri.

"Itu janji saya kepada Sang Pencipta dan juga teman-teman," kata Zalaluddin saat berbincang dengan VIVAnews.com.

Pemilik nama Muhammad Zalaluddin Sofan Fitri ini bercerita, saat duduk di bangku kelas 3 SMA, dirinya memang sering berucap kepada teman-teman sekolah, akan bersepeda sampai ke kampus yang menerimanya. Zalaluddin akhirnya diterima di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Tanpa berpikir panjang, setelah diumumkan diterima di UI, Zalal langsung membulatkan tekadnya untuk memenuhi nazar itu. Dia berangkat Selasa, 19 Juli 2011 lalu, dilepas oleh guru dan rekan-rekannya di SMA 1 Pati. "Baik orangtua, teman, guru, semua mendukung saya," ungkapnya.

Menaiki sepeda onthel, Zalal berangkat seorang diri dengan perbekalan dan uang seadanya. Selama perjalanan, berbagai kejadian unik dia alami. Mulai dari diganggu waria, diberi makan oleh preman, hingga bertemu lelaki tua penjual sapu lidi. "Dari semua itu, saya paling terkesan bertemu dengan orang hebat di Alas Roban," dia mengisahkan.

Orang hebat yang dia maksud adalah lelaki berusia 75 tahun yang setiap hari menarik gerobak berisi 60 buah sapu lidi. Penjual itu setiap hari bolak-balik sejauh 40 kilometer untuk menjajakan dagangannya. "Dia tangguh sekali. Apa yang saya lakukan ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dia," kata Zalal.

Untuk beristirahat, Zalal parkir di lahan kosong atau pompa bensin. "Sering juga di warnet dan rumah penduduk," tambahnya. Dia menghentikan perjalananan untuk sekadar makan atau buang air.

Pada Minggu siang, 24 Juli 2011, Zalal pun tiba di tempat tujuan. Dia disambut oleh teman-temannya yang tergabung dalam komunitas warga Pati di Depok. Kebanggaan menaklukkan dinginnya malam dan tajamnya tanjakan Alas Roban semakin lengkap saat penghargaan diberikan Dekan FIB UI, Bambang Wibawarta, sebagai penghargaan atas kegigihan Zalal.

Penghargaan diserahkan Senin kemarin. Dekan juga berjanji akan membantu Zalal untuk mendapat keringanan biaya pendidikan dan fasilitas pondokan di asrama mahasiswa UI. Dan jika dia berprestasi, Fakultas Sejarah UI juga berjanji akan mencarikan beasiswa untuknya. (kd)

•Jum'at, 29 Juli 2011, 07:15 WIB Desy Afrianti VIVAnews
Selengkapnya...

perjalanan nadhar keterima di Universitas Indonesia Muhammad Zalaluddin Sofan Fitri

hm.... hari pertama

oleh pada 20 Juli 2011 jam 0:35

terimakasih kepada teman-teman dan pihak2 yang membantu saya. dari kudus menuju semarang alhamdulillah bertemu dengan beberapa orang2 di pengalaman awal, sempat mendengar keluh kesah bapak hadi tentang anak-anak nya di sekitar jalan kudus demak, kemudian terima kasih kepada bapak cipto yang telah mentraktir saya di warung bebek, danbaru mengenalnya beberapa saat di jalan, terima kasih kepada mas samsul juga yang memberikan semangat saat selese maghrib di perbatasan demak senarang, juga terima kasih kepada nenek di dekat warnet bulu yang memberikan doanya selalu, menunggu perjalanan berikutnya.

hari ke 2

pada 21 Juli 2011 jam 15:03

hm...... di pom bensin kendal, ke arah cepiring beberapa orang sempat menyapa, dan tak lama kemudian sarapan di dekat kali kuta gringsing, sambil menikmati pegunungan (lereng gunung prahu) setelah itu mengambil jalan ke arah pasar plelen, jalur paling utara atau jalur yang paling berat. di sini aku bertemu dengan beberapa orang yang lebih hebat dari ku.

"mbah parmo dan mbah keman", sejenak berjalan letih kurang lebih 300M tanjakan baru separuhnya, dari atas turun mbah parmo, seorang kakek2 dengan gerobak songkronya yang berisi sapu lidi, karena lelah aku istirahat dan langsung menghampiri kakek yang berusia lebih 70 tahunan, aku menanyakan semua tentang dia, akhirnya dia menceritakan kemana saja, dalam tiga hari dia akan berkeliling dari limpung-weleri dan kembali kerumanya untuk membuat sapu, dan jalan yang di lewati, saya bisa merasakanya hingga bermandikan keringat, dari rumah dia membawa 60 sapu lidi dan di jual ke orang2 seharga 3000, dan terkadang ada juga yang menawar. karena aku sangat menghargainya maka aku membelinya 3 buah, kemudian saya berpamitan denganya.

perjalanan saya lanjutkan hingga ke pos polisi di luwes "sebelum banyu putih atau setelah tanjakan hutan roban" di sana saya mampir di sebuah warung degan, bertemu dengan mbah keman, dari penuturan ceritanya dia sudah menjelajah seluk beluk alas sroban di usianya yang tak muda lagi, dia melakukan itu karena tiak punya rumah dan di usir oleh putranya dari rumah, karena merasa haus aku memesan 2 es degan dan minum dengan mbah keman mendengarkan penuturan2 nya, karena saya juga bingung tentang sapu lidi3 tadi maka sapu itu aku serahkan ke ibu penjual es degan, dan akhirnya dia mau menerimanya.

setelah istirahat aku berpamitan dengan mereka berdua dan degan tadi di berikan gratis, juga di bawakan beberapa jajanan untuk diriku dari ibu warung, sekali lagi saya ucapkan terima kasih, berikutnya perjalanan di lanjutkan tanjakan ke gunung prekso"banyu putih" hingga di subah ngenet sambil istirahat sebentar, setelah itu perjalanan di lanjutkan sampe di pom bensin istirahat dan madep sama sang epncipta sebentar, di sini bertemu dengan anak pati dari kemiri, dan sempat mengobrol, setelah itu berpamitan dan melanjutkan perjlananan hingga ke batang, di sini di sambut oleh saudara dari temanku Sinta Tc, dan beristirahat sebentar,

perjalanan selanjutnya di lanjutkan hingga ke pekalongan, di pekalongan para club tiger yang sudah dihubungi oleh kakak kel;as saya atau mereka biasa memanggil Broto, di sini berkenalan dengan mereka hingga malam, karena cuaca hujan, aku menunggu terang. bersambung hari ke 3.

ha ha ha susah senang hari ke 3

pada 22 Juli 2011 jam 2:40

setelah berpamitan dengan mas yuli dan kawan-kawan sehabis hujan segera kembali ku kayuh sepedahku hingga ke pom antara pekalongan dan pemalang di sebabkan gerimis lagi. di pembensin ternyata malah ketemu tetangga dari ngawen, ha ha ha, dan istirahat,

pagi habis subuh kembali sepeda ku kayuh hingga melewati kota merk spirtus yang biasa aku pakai untuk masak, dan siangnya sampai di tegal, di tegal aku mau istirahat untuk mencari warnet, karena aku kira bagian jembatan layang di tegal bagian dari pantura maka aku melewatinya(padahal ga ada mobil yang lewat" ku kira ada kerusakan mungkin sepeda bvisa lewat. tapi perkiraanku mleset, aku malah sampai di TPA tegal dan tempat peternakan di dekat TPA, tapi ga masalah karena ternyata jalan tadi adalah jalan yang menuju terminal tegal. ternyata brebes -tegal 7 km, wah wah gak nyangka sampai brebes dengan cepat. aku mencari warnet di tegal jarang sekali, yang banyak malah warteg(warung makan touch screen) 4 km dari terminal kemacetan mulai melanda karena ada perbaikan jalan, sejenak istirahat di berebes sambil di warnet.

berikutnya setelah jalanan agak lenggang kembali dengan santai sepeda meluncur hingga ke kec bulu kamba, di sini bertemu dengan beberapa pedagang asongan setelah dzhur asyik berbincang dengan mereka, karena di rasa cukup dan telah mendapat informasi segera ke arah kec tanjung, sebelum sampai di tanjung sempat mnservis sepedahku. disinni bertemu dengan mas Raja pria kelahiran sumatra dan ternyata supir yang sering mampir di warung kopi di rumah temenku bahrul halimi sehabis memasok ikan dari tayu ha ha ha."katanya demen sama kopinya "

terik matahari mulai menyengat, inilah yang membedakan (batang,pekalongan,pemalang)setiap malam hujan dan banyak air. brebes(kekeringan) mungkin gara2 ada gunung selamet yang membawakan uap atau angin dari laut, di berebese sempet ketemu penjual penthol yang harus mikul dari losari PP setiap hari, hm/....... padahal panasnya ngeter2 ampun. sorenya sampai di lossari, dan perjalanan di lanjutkan ke arah cirebon, di tengah perjalanan saat sholat maghrib di pom bertemu dengan pak syukron dan pak sukawi dan berbagi pengalaman dengan mereka haha/. malam nya langsung tancap cirebon dan di alun2 sedsng ada pengajian. wes leren2

huehuehuehueh hari ke 4 coy

pada 23 Juli 2011 jam 13:21

Cirebon. hm...... di sini aku melanjutkan perjaanan memasuki kota dan kahirnya sampai di gedung kabupaten, wah wah ternyata di sana lagi ada pengajian. seperti biasa sebelum istirahat saya mencari warnet dan ternyata ada di deket kantor kabupaten. nginep di sana sekalian, ha ha ha untung mas nya baik apa lagi dia suka main AO"hobiku dului" jadi di kasi mirah woakowkokaokowkoa,

Paginya habis subuh tidur lagi karena capek dan menunggu temen2 dari Kaskus ketua reg cirebon, setelah bertemu maka wisata kuliner kembali di mulai dengan mengajak ke tempat nasi asal cirebon wkakkwkakkw, setelah berpamitan perjalanan kembali kulanjutkan, 7 km dari tempat kami berpisah terletak makam S Gunung Jati, dan aku shalat jum'at di M Karangampel. sebelum shalat jum'at aku mampir di sebuah pombensin, yang aku heran ternyata para petugas pom besin di sini mereka adalah orang2 intelektual, gila, salahsatunya ada yang bercerita di terima di UGM , tetapi gak di ambil karena ga punya duid

dari sana sejenak beristirahat di depan SMK 1 karangampel, di sini bertemu dengan penjual es di depan sekolah, sejenak bercerita sambil membeli es. ha ha ha ha panas soale, ha ha haha karena penjual es suka mendengar ceritaku maka waktu aku mau bayar dia menggratisi esnya, Alhamdulillah hueheuhue. perjalanan dilanjutkan kembali sampai di pertigaan yang satu ke arah indramyu dan satunya ke arah jati barang di sana bertemu dengan siswa yang naik sepeda, hahah dengan senang aku bicara denganya dan dia bercerita tentang dirinya. hm.... kemudian aku memberikan pemikiran lain " jangan bilang doktrin" wkwkwkwk dan dia menyetujuinya huehuehue, tetapi aku tetep salut ma dia temen2nya waktu saya liat pada naik motor dia tetep dengan sepedahnya, dan aku memberinya beberapa motivasi.

karena sudah siang maka aku berpamitan denganya,

perjalanan saya lanjutkan hingga tengah menjelang asar saya beristirahat sejenak, saya kok malah menikmati angin pantai dan istirahat sejenak. berikutnya perjalanan saya lanjutkan sampai di pom sebelum masuk ke komplek pabrik pertamina di INdramayu pinggir pantai, di sana bertemu dengan supir trk, kembali kami berbincang2 , karena supir truk ahli sepeda, maka ia cek sepeda saya daan di benerin, dan saya mengucapkan terima kasih, dan berpamitan

selanjutnya perjalanan saya lanjutkan kali ini melewati indramayu, ketika saya melihat sebuah sunagi, lupa namanya, disana ada bendungan karet malah di pakai buat lompatan oleh anak2 heuehehu gila bener, habis itu perjjalanan di lanjutkan hingga ke pertrmuan jalur indramayu dan jati barang. disini mapir sholat dulu dan melanjutkan ke arah pamanukan, sampe di pamanukan saya istirahat dulu. bersambung hari ke 5


Selengkapnya...