Jumat, 29 Juli 2011

Masuk UI, Dia Kayuh Sepeda dari Pati ke Depok Zalaluddin: "Itu janji saya kepada Sang Pencipta dan juga teman-teman."



VIVAnews - Janji adalah hutang yang harus dibayar. Karena janji itu jualah, Zalaluddin rela mengayuh sepeda dari Pati, Jawa Tengah, sampai ke Depok, Jawa Barat. Perjalanan bersepeda sejauh 600 kilometer lebih itu ditempuh Zalal untuk menggenapi nazarnya jika ia diterima di Universitas Negeri.

"Itu janji saya kepada Sang Pencipta dan juga teman-teman," kata Zalaluddin saat berbincang dengan VIVAnews.com.

Pemilik nama Muhammad Zalaluddin Sofan Fitri ini bercerita, saat duduk di bangku kelas 3 SMA, dirinya memang sering berucap kepada teman-teman sekolah, akan bersepeda sampai ke kampus yang menerimanya. Zalaluddin akhirnya diterima di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Tanpa berpikir panjang, setelah diumumkan diterima di UI, Zalal langsung membulatkan tekadnya untuk memenuhi nazar itu. Dia berangkat Selasa, 19 Juli 2011 lalu, dilepas oleh guru dan rekan-rekannya di SMA 1 Pati. "Baik orangtua, teman, guru, semua mendukung saya," ungkapnya.

Menaiki sepeda onthel, Zalal berangkat seorang diri dengan perbekalan dan uang seadanya. Selama perjalanan, berbagai kejadian unik dia alami. Mulai dari diganggu waria, diberi makan oleh preman, hingga bertemu lelaki tua penjual sapu lidi. "Dari semua itu, saya paling terkesan bertemu dengan orang hebat di Alas Roban," dia mengisahkan.

Orang hebat yang dia maksud adalah lelaki berusia 75 tahun yang setiap hari menarik gerobak berisi 60 buah sapu lidi. Penjual itu setiap hari bolak-balik sejauh 40 kilometer untuk menjajakan dagangannya. "Dia tangguh sekali. Apa yang saya lakukan ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dia," kata Zalal.

Untuk beristirahat, Zalal parkir di lahan kosong atau pompa bensin. "Sering juga di warnet dan rumah penduduk," tambahnya. Dia menghentikan perjalananan untuk sekadar makan atau buang air.

Pada Minggu siang, 24 Juli 2011, Zalal pun tiba di tempat tujuan. Dia disambut oleh teman-temannya yang tergabung dalam komunitas warga Pati di Depok. Kebanggaan menaklukkan dinginnya malam dan tajamnya tanjakan Alas Roban semakin lengkap saat penghargaan diberikan Dekan FIB UI, Bambang Wibawarta, sebagai penghargaan atas kegigihan Zalal.

Penghargaan diserahkan Senin kemarin. Dekan juga berjanji akan membantu Zalal untuk mendapat keringanan biaya pendidikan dan fasilitas pondokan di asrama mahasiswa UI. Dan jika dia berprestasi, Fakultas Sejarah UI juga berjanji akan mencarikan beasiswa untuknya. (kd)

•Jum'at, 29 Juli 2011, 07:15 WIB Desy Afrianti VIVAnews
Selengkapnya...

perjalanan nadhar keterima di Universitas Indonesia Muhammad Zalaluddin Sofan Fitri

hm.... hari pertama

oleh pada 20 Juli 2011 jam 0:35

terimakasih kepada teman-teman dan pihak2 yang membantu saya. dari kudus menuju semarang alhamdulillah bertemu dengan beberapa orang2 di pengalaman awal, sempat mendengar keluh kesah bapak hadi tentang anak-anak nya di sekitar jalan kudus demak, kemudian terima kasih kepada bapak cipto yang telah mentraktir saya di warung bebek, danbaru mengenalnya beberapa saat di jalan, terima kasih kepada mas samsul juga yang memberikan semangat saat selese maghrib di perbatasan demak senarang, juga terima kasih kepada nenek di dekat warnet bulu yang memberikan doanya selalu, menunggu perjalanan berikutnya.

hari ke 2

pada 21 Juli 2011 jam 15:03

hm...... di pom bensin kendal, ke arah cepiring beberapa orang sempat menyapa, dan tak lama kemudian sarapan di dekat kali kuta gringsing, sambil menikmati pegunungan (lereng gunung prahu) setelah itu mengambil jalan ke arah pasar plelen, jalur paling utara atau jalur yang paling berat. di sini aku bertemu dengan beberapa orang yang lebih hebat dari ku.

"mbah parmo dan mbah keman", sejenak berjalan letih kurang lebih 300M tanjakan baru separuhnya, dari atas turun mbah parmo, seorang kakek2 dengan gerobak songkronya yang berisi sapu lidi, karena lelah aku istirahat dan langsung menghampiri kakek yang berusia lebih 70 tahunan, aku menanyakan semua tentang dia, akhirnya dia menceritakan kemana saja, dalam tiga hari dia akan berkeliling dari limpung-weleri dan kembali kerumanya untuk membuat sapu, dan jalan yang di lewati, saya bisa merasakanya hingga bermandikan keringat, dari rumah dia membawa 60 sapu lidi dan di jual ke orang2 seharga 3000, dan terkadang ada juga yang menawar. karena aku sangat menghargainya maka aku membelinya 3 buah, kemudian saya berpamitan denganya.

perjalanan saya lanjutkan hingga ke pos polisi di luwes "sebelum banyu putih atau setelah tanjakan hutan roban" di sana saya mampir di sebuah warung degan, bertemu dengan mbah keman, dari penuturan ceritanya dia sudah menjelajah seluk beluk alas sroban di usianya yang tak muda lagi, dia melakukan itu karena tiak punya rumah dan di usir oleh putranya dari rumah, karena merasa haus aku memesan 2 es degan dan minum dengan mbah keman mendengarkan penuturan2 nya, karena saya juga bingung tentang sapu lidi3 tadi maka sapu itu aku serahkan ke ibu penjual es degan, dan akhirnya dia mau menerimanya.

setelah istirahat aku berpamitan dengan mereka berdua dan degan tadi di berikan gratis, juga di bawakan beberapa jajanan untuk diriku dari ibu warung, sekali lagi saya ucapkan terima kasih, berikutnya perjalanan di lanjutkan tanjakan ke gunung prekso"banyu putih" hingga di subah ngenet sambil istirahat sebentar, setelah itu perjalanan di lanjutkan sampe di pom bensin istirahat dan madep sama sang epncipta sebentar, di sini bertemu dengan anak pati dari kemiri, dan sempat mengobrol, setelah itu berpamitan dan melanjutkan perjlananan hingga ke batang, di sini di sambut oleh saudara dari temanku Sinta Tc, dan beristirahat sebentar,

perjalanan selanjutnya di lanjutkan hingga ke pekalongan, di pekalongan para club tiger yang sudah dihubungi oleh kakak kel;as saya atau mereka biasa memanggil Broto, di sini berkenalan dengan mereka hingga malam, karena cuaca hujan, aku menunggu terang. bersambung hari ke 3.

ha ha ha susah senang hari ke 3

pada 22 Juli 2011 jam 2:40

setelah berpamitan dengan mas yuli dan kawan-kawan sehabis hujan segera kembali ku kayuh sepedahku hingga ke pom antara pekalongan dan pemalang di sebabkan gerimis lagi. di pembensin ternyata malah ketemu tetangga dari ngawen, ha ha ha, dan istirahat,

pagi habis subuh kembali sepeda ku kayuh hingga melewati kota merk spirtus yang biasa aku pakai untuk masak, dan siangnya sampai di tegal, di tegal aku mau istirahat untuk mencari warnet, karena aku kira bagian jembatan layang di tegal bagian dari pantura maka aku melewatinya(padahal ga ada mobil yang lewat" ku kira ada kerusakan mungkin sepeda bvisa lewat. tapi perkiraanku mleset, aku malah sampai di TPA tegal dan tempat peternakan di dekat TPA, tapi ga masalah karena ternyata jalan tadi adalah jalan yang menuju terminal tegal. ternyata brebes -tegal 7 km, wah wah gak nyangka sampai brebes dengan cepat. aku mencari warnet di tegal jarang sekali, yang banyak malah warteg(warung makan touch screen) 4 km dari terminal kemacetan mulai melanda karena ada perbaikan jalan, sejenak istirahat di berebes sambil di warnet.

berikutnya setelah jalanan agak lenggang kembali dengan santai sepeda meluncur hingga ke kec bulu kamba, di sini bertemu dengan beberapa pedagang asongan setelah dzhur asyik berbincang dengan mereka, karena di rasa cukup dan telah mendapat informasi segera ke arah kec tanjung, sebelum sampai di tanjung sempat mnservis sepedahku. disinni bertemu dengan mas Raja pria kelahiran sumatra dan ternyata supir yang sering mampir di warung kopi di rumah temenku bahrul halimi sehabis memasok ikan dari tayu ha ha ha."katanya demen sama kopinya "

terik matahari mulai menyengat, inilah yang membedakan (batang,pekalongan,pemalang)setiap malam hujan dan banyak air. brebes(kekeringan) mungkin gara2 ada gunung selamet yang membawakan uap atau angin dari laut, di berebese sempet ketemu penjual penthol yang harus mikul dari losari PP setiap hari, hm/....... padahal panasnya ngeter2 ampun. sorenya sampai di lossari, dan perjalanan di lanjutkan ke arah cirebon, di tengah perjalanan saat sholat maghrib di pom bertemu dengan pak syukron dan pak sukawi dan berbagi pengalaman dengan mereka haha/. malam nya langsung tancap cirebon dan di alun2 sedsng ada pengajian. wes leren2

huehuehuehueh hari ke 4 coy

pada 23 Juli 2011 jam 13:21

Cirebon. hm...... di sini aku melanjutkan perjaanan memasuki kota dan kahirnya sampai di gedung kabupaten, wah wah ternyata di sana lagi ada pengajian. seperti biasa sebelum istirahat saya mencari warnet dan ternyata ada di deket kantor kabupaten. nginep di sana sekalian, ha ha ha untung mas nya baik apa lagi dia suka main AO"hobiku dului" jadi di kasi mirah woakowkokaokowkoa,

Paginya habis subuh tidur lagi karena capek dan menunggu temen2 dari Kaskus ketua reg cirebon, setelah bertemu maka wisata kuliner kembali di mulai dengan mengajak ke tempat nasi asal cirebon wkakkwkakkw, setelah berpamitan perjalanan kembali kulanjutkan, 7 km dari tempat kami berpisah terletak makam S Gunung Jati, dan aku shalat jum'at di M Karangampel. sebelum shalat jum'at aku mampir di sebuah pombensin, yang aku heran ternyata para petugas pom besin di sini mereka adalah orang2 intelektual, gila, salahsatunya ada yang bercerita di terima di UGM , tetapi gak di ambil karena ga punya duid

dari sana sejenak beristirahat di depan SMK 1 karangampel, di sini bertemu dengan penjual es di depan sekolah, sejenak bercerita sambil membeli es. ha ha ha ha panas soale, ha ha haha karena penjual es suka mendengar ceritaku maka waktu aku mau bayar dia menggratisi esnya, Alhamdulillah hueheuhue. perjalanan dilanjutkan kembali sampai di pertigaan yang satu ke arah indramyu dan satunya ke arah jati barang di sana bertemu dengan siswa yang naik sepeda, hahah dengan senang aku bicara denganya dan dia bercerita tentang dirinya. hm.... kemudian aku memberikan pemikiran lain " jangan bilang doktrin" wkwkwkwk dan dia menyetujuinya huehuehue, tetapi aku tetep salut ma dia temen2nya waktu saya liat pada naik motor dia tetep dengan sepedahnya, dan aku memberinya beberapa motivasi.

karena sudah siang maka aku berpamitan denganya,

perjalanan saya lanjutkan hingga tengah menjelang asar saya beristirahat sejenak, saya kok malah menikmati angin pantai dan istirahat sejenak. berikutnya perjalanan saya lanjutkan sampai di pom sebelum masuk ke komplek pabrik pertamina di INdramayu pinggir pantai, di sana bertemu dengan supir trk, kembali kami berbincang2 , karena supir truk ahli sepeda, maka ia cek sepeda saya daan di benerin, dan saya mengucapkan terima kasih, dan berpamitan

selanjutnya perjalanan saya lanjutkan kali ini melewati indramayu, ketika saya melihat sebuah sunagi, lupa namanya, disana ada bendungan karet malah di pakai buat lompatan oleh anak2 heuehehu gila bener, habis itu perjjalanan di lanjutkan hingga ke pertrmuan jalur indramayu dan jati barang. disini mapir sholat dulu dan melanjutkan ke arah pamanukan, sampe di pamanukan saya istirahat dulu. bersambung hari ke 5


Selengkapnya...

Oleh-oleh Kehidupan dari "Ngonthel" Pati-Depok



KOMPAS/AGNES RITA
M Zalaluddin, lulusan SMA 1 Pati yang memenuhi nadzarnya jika diterima di UI, bersepeda dari Pati hingga Depok.
KOMPAS.com - Awalnya, perjalanan Pati-Depok dengan sepeda onthel dilakukan Muhammad Zalaluddin Sofan Fitri (19) untuk menggenapi nazar yang sudah terucap. Namun, di jalan, pria asal Blora ini justru menemukan pengalaman kemanusiaan saat bersentuhan dengan banyak orang, terutama rakyat jelata.
Nazar untuk bersepeda dari Pati ke Universitas Indonesia (UI) digenapi Zalal setelah dia diterima sebagai mahasiswa Universitas Indonesia Jurusan Sejarah Angkatan 2011. Dari SMA Negeri 1 Pati, Zalal mulai mengarahkan sepedanya ke Ibu Kota hari Selasa (19/7).
Bersama sepeda onthel warna hijau tua yang dimilikinya sejak SMA kelas 1, Zalal membawa semua pakaian dan kebutuhan untuk pendaftaran kuliah. Sebuah tas ransel besar disandangnya. Di sadel belakang, sebuah kotak bagasi dipasang untuk menaruh ban serep, makanan ringan, air minum, dan tisu. Di bawah kotak itu tertempel sebuah kertas bertuliskan ”Nadzar Diterima di UI”.
Sehelai bendera Merah Putih yang terikat di sebilah rotan dipasang di bagian belakang sepeda. Sementara sebuah pompa ban diikatkan di badan sepeda. Satu lampu tambahan terpasang di depan lampu sepeda nya.
Hari Minggu kemarin sekitar pukul 09.00, Zalal tiba di asrama mahasiswa UI. Hari Minggu pagi, sekitar 10 mahasiswa asal Pati serta simpatisan ikut nggowes bareng Zalal dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) hingga ke UI. Setibanya di kantin asrama mahasiswa, tidak ada penyambutan yang istimewa. Beberapa sesama mahasiswa asal Pati menemaninya duduk sambil menyeruput es teh. Genap sudah perjalanan sejauh sekitar 500 kilometer itu....
Selengkapnya baca Harian Kompas, 25 Juli 2011.
Selengkapnya...

Kamis, 28 Juli 2011

Reshuffle dan Manuver Politik Oleh Muhammad Mukhlisin

Lagi-lagi, isu reshuffle menguak kembali ke arena politik pemerintahan. Kali ini reshuffle muncul karena kinerja menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II dinilai belum bekerja maksimal. Berdasarkan hasil evaluasi Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UK P4), kurang dari 50% program-program yang direncanakan dapat terealisasi.

Isu reshuffle kali ini agak berbeda dengan isu reshuffle sebelumnya yang didominasi pertimbangan politis transaksional. Kali ini isu reshuffle berangkat dari kinerja pemerintahan yang tidak maksimal. Seperti beberapa bulan lalu, isu reshuffle mencuat setelah terjadi perpecahan pendapat di partai koalisi pendukung pemerintah.

Misalnya, dalam menentukan hak angket kasus Bank Century dan kasus perpajakan. Tak tanggung-tanggung, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat mengisyaratkan reshuffle para menterinya yang berasal dari partai lain yang tidak sependapat tersebut.

Reshuffle yang awalnya dilontarkan oleh Presiden tersebut ternyata hanyalah manuver politik dan gertakan untuk partai koalisi. Hal tersebut mengakibatkan kinerja pemerintahan menjadi tidak efektif, tidak fokus dan permasalahan bermunculan di mana-mana. Termasuk, di antaranya adalah kasus kekerasan, korupsi yang merajalela, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di berbagai daerah, melonjaknya harga pokok makanan dan lain sebagainya.

Reshuffle merupakan hak perogratif presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan. Dalam sistem presidensial seperti di Indonesia, kebijakan reshuffle oleh presiden memang dibutuhkan untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan. Tetapi, di lain pihak, sistem parlemen yang multi partai mau tidak mau terfragmentasi di dalam sistem koalisi-oposisi untuk meningkatkan peran check and balanches terhadap pemerintah.

Menurut ahli filsafat Inggris Thomas Hobbes (1588-1679), sebuah pemerintahan digambarkan sebagai sebuah leviathan. Leviathan adalah sebuah monster di dalam mitologi Timur Tengah yang sangat buas dan ganas. Hobbes mengemukakan untuk mencegah pemerintah leviathan, maka kekuasaan pemerintahan harus dibatasi. Lanjut Hobbes, bentuk pemerintah dan pembatasan kekuasaannya bisa berbentuk apa pun tetapi harus terpisah dan independen antara satu lembaga dengan lembaga pemerintahan yang lain.

Independensi

Berasumsi dari teori Hobbes tersebut, sudah jelas lembaga-lembaga tinggi negara, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif masing-masing harus mempunyai independensi yang tidak bisa digoyah. Karena, hal itu akan mencegah negara menjadi sebuah leviathan. Tetapi, melihat situasi Indonesia sekarang ini, justru menggambarkan keadaan yang sebaliknya. Di mana antara lembaga tinggi negara saling menguatkan posisi satu dan yang lain untuk melanggengkan status quo.

Pengaruh eksekutif di legislatif begitu kuat dengan anggota partai koalisi yang diwadahi dengan Setgab partai koalisi. Tentunya hal ini wajar dalam sistem pemerintahan yang multi partai. Sama halnya dengan recall di DPR, recall akan menjadi wajar bahkan diperlukan jika memang anggota dewan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum dan etika sebagai anggota DPR. Tetapi, jika sudah bersifat transaksional antara lembaga satu dengan yang lain, maka yang muncul adalah sebuah leviathan yang mengerikan.

Asumsi ini memberikan point penting bahwa reshuffle jangan sampai sebatas manuver politik. manuver politik seperti ini merubah substansi demokrasi. Dari demokrasi yang pro rakyat menjadi demokrasi yang prosedural dengan penyokong politik transaksional. Dengan orientasi para politikus yang hanya melanggengkan kekauasaan mereka.

Check and Balances

Hasil reshuffle kabinet memang tidak menjamin efektifitas kinerja pemerintahan. Tetapi, evaluasi kinerja pemerintahan mutlak harus dilakukan. Diperlukan ketegasan dan leadhership yang kuat untuk menjalankan kinerja pemerintahan secara efektif. Jika reshuffle sudah mendesak, sebaiknya harus dilakukan.

Masyarakat sudah menanti ketegasan Presiden. Bukan dalam bentuk manuver-manuver politik seperti pada isu reshuffle kabinet sebelum-sebelumnya. Bukan juga politik transaksional yang mendasarinya. Karena, akan menimbulkan minimnya check and balances sehingga sistem pemerintahan tidak berjalan dengan efektif.

Kemudian, leviathan yang akan menguasai negara. Dan, jika hal itu terjadi, Hobbes mengemukakan 2 kemungkinan. Pertama, muncul keadilan dari penguasa untuk menyelesaikan. Dan, jika tidak terwujud maka yang terjadi adalah kemungkinan kedua, rakyat akan melakukan revolusi untuk memperjuangka hak-hak mereka.

Sebaiknya Presiden SBY sebagai pemimpin pemerintahan harus cepat mengambil tindakan terhadap keadaan ini. Seperti cepatnya reaksi Presiden terhadap kasus Nazaruddin yang mengobrak-abrik Demokrat. Berbagai forum dan lembaga masyarakat sudah bosan mengkritisi pemerintah mulai dari pengamat politik, ekonom, agamawan dan yang terakhir gerakan mahasiswa kelompok Cipayung (HMI, PMII, PMKRI, GMNI, GMKI) yang mulai menunjukkan kesolidan untuk merespon pemerintahan yang karut marut.

Bagaimanapun ketegasan presiden bakal menentukan efektivitas pemerintahan.

***

Penulis adalah Koordinator umum Forum Kajian Sosial dan Keagamaan Piramida Circle Ciputat, Tangerang.

Dimuat di Harian Suara Karya,

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=283779

Selengkapnya...

Sabtu, 18 Juni 2011

Demokrasi, Pancasila, dan Spirit Multikultural*


Euforia demokrasi pasca-Reformasi terasa semakin jauh dari solidaritas dan kebersamaan. Santernya gerakan radikalisme agama dan bentuk-bentuk kekerasan lain yang terus terjadi akhir-akhir ini menjadi bukti bahwa demokrasi kita sedang limbung.

Berdasarkan survei Moderate Muslim Society (MMS), misalnya, menyebutkan bahwa sejak Reformasi, gerakan ekstremisme di Indonesia terus membesar. Pada 2009, MMS mencatat 59 kali kasus kekerasan terjadi atas nama agama. Sementara itu, pada 2010, meningkat 30 persen menjadi 80 kali kasus. Adapun pada tahun ini, diperkirakan bisa mencapai 100 persen. Fenomena inilah yang kemudian oleh Profesor Azyumardi Azra (2011) disebut sebagai anomali demokrasi.

Demokrasi yang digadang-gadang sebagai sistem paling ideal untuk sebuah negara plural seperti Indonesia pun menimbulkan paradoks. Banyak orang bersuara lantang dan saling mencibir dengan dalih demokrasi. Begitu halnya dengan ekspresi-ekspresi yang berwujud kekerasan, juga terjadi karena alasan demokrasi. Demokrasi seolah hanya menjadi tumbal untuk membenarkan tindakan ekspresif. Akibatnya, demokrasi pun sekadar menjadi pil pahit dalam kehidupan berbangsa yang harus terus ditelan namun tidak dapat menyembuhkan berbagai penyakit kebangsaan.

Paling tidak ada dua alasan mengapa fenomena di atas itu terjadi. Pertama, karena hilangnya nilai-nilai Pancasila dalam demokrasi. Kedua, karena runtuhnya spirit multikultural dalam Pancasila itu sendiri.

Demokrasi dan Pancasila

Tidak harmonisnya hubungan antara demokrasi dan Pancasila merupakan alasan utama mengapa domokrasi menjadi bebal. Ketidakharmonisan ini secara kasuistis dapat dilihat dari UU 20/2003 (Sisidiknas) yang tidak lagi menyebut Pancasila sebagai pelajaran wajib. Pancasila terabaikan bahkan cenderung termarginalkan hanya karena dianggap tidak reformis. Akibatnya, demokrasi dimaknai bebas sebebas-bebasnya dan cenderung mengabaikan nilai-nilai Pancasila. Padahal, demokrasi sebagai sistem negara sudah selayaknya merangkul Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Jika demokrasi merupakan napas Pancasila, Pancasila adalah pakem demokrasi yang di dalamnya terdapat nilai-nilai gotong royong dan kesetaraan. Sebab, kebiasaan untuk memandang dan memperlakukan orang lain setara itulah amanat penting dari Pancasila. Sebagaimana dikatakan filsuf politik kontemporer John Rawls (1993), kesetaraan adalah syarat penting bagi hidup bernegara sebagai suatu “sistem kerja sama sosial”.

Tak pelak jika pada masa pemerintahan Presiden John F Kennedy, negara yang paling ditakuti Amerika Serikat ialah Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia memiliki ghirah nasionalisme yang sangat kuat, sebagai akibat penjelmaan bangunan teoretis konsepsi Pancasila. Menurut Kennedy, Pancasila merupakan sebuah ideologi besar, yang mampu mengobarkan semangat nasionalisme, sangat toleran, antikorupsi, saling menghargai, dan menjunjung tinggi perbedaan, serta sangat mengakomodasi persamaan. Di sinilah demokrasi dan Pancasila diibaratkan sebagai setali tiga uang yang saling berkelindan.

Spirit Multikultural

Spirit multikultural menjadi jalan utama jika ingin mewujudkan nilai-nilai demokrasi dan Pancasila sebagaimana yang dicita-citakan bangsa. Sebab spirit inilah yang nantinya akan menjadi katalisator untuk meredam terjadinya persinggungan atau gesekan antaretnis dan agama. Spirit multikultural menjadi penting fungsinya di dalam negara yang bermasyarakat majemuk seperti Indonesia. Ini karena semangat multikultural terbukti telah mampu menginterupsi berbagai ketegangan yang ada di masyarakat.

Entitas multikultural berlatar pada keragaman etnisitas agama, ekspresi budaya, dan lain sebagainya, yang semuanya harus dikelola dan difasilitasi dalam kesetaraan pengakuan dan toleransi. Di sinilah semangat Pancasila sangat berbanding lurus dengan pengakuan multikultural, karena Pancasila lahir dari perbedaan etnis, identitas, kultur, dan kemajemukan.

Pancasila sendiri merupakan institusionalisasi multikultural yang membuka ekspresi, solidaritas, dan partisipasi dalam semangat persatuan dan kemanusiaan. Dengan kata lain, multikulturalisme merupakan sebuah gagasan perjuangan tentang pengakuan atas realitas masyarakat yang majemuk dan pluralistik (bineka).

Oleh karena itu, spirit multikultural hendaknya dipahami sebagai unsur penting dalam upaya mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dan mengibarkan bendera demokrasi, agar sesuai dengan pakemnya. Spirit multikultural ini mengandung beragam prinsip penting. Pertama, prinsip universalitas, yakni sebagai unsur-unsur yang sangat luas persebarannya dan dapat dianggap sebagai unsur kebudayaan yang menunjukkan persamaan (cultural similarity).

Kedua, prinsip relevansi, yakni sebagai budaya yang mempunyai kegunaan praktis (utility) dalam masyarakat majemuk yang memerlukan kerangka acuan maupun media sosial untuk memperlancar interaksi sosial lintas lingkungan atau ranah kebudayaan secara tertib. Ketiga, prinsip distingtif (distinctiveness), yakni sebagai unsur yang menunjukkan kekhususan sebagai unsur budaya yang diidolakan sebagai unsur jati-diri bangsa yang membedakan dari bangsa lain. Dalam bentuk yang praktis, prinsip distingtif ini akan membentuk kepribadian bangsa yang diharapkan, seperti nilai-nilai budaya dalam menghargai musyawarah untuk mencapai kesepakatan dalam tataran demokrasi.

Keempat, prinsip kemajuan (adab), yakni sebagai unsur yang membuka peluang atau memperlancar kreativitas masyarakat untuk mengembangkan penemuan menuju adab sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945. Di sinilah spirit multikultural tetap dapat mengadopsi budaya asing, tetapi dengan catatan tidak menghilangkan nilai dan alur budaya bangsanya sendiri.

Kelima, prinsip kesetaraan (equality), sebagaimana diamanatkan UUD 1945 bahwa semangat kesetaraan di samping keanekaragaman dalam pengembangan kebudayaan bangsa, sebagaimana tercermin tentang arah kemajuan harus terus ditempuh, juga agar setiap orang mampu menuju peradaban yang maju, berbudaya, dan persatuan bangsa. Dengan spirit inilah, kekecewaan maupun kecemburuan sosial yang ditimbulkan oleh kecenderungan subjektif dan dominasi ideologi atau golongan tertentu akan dapat teratasi.

Sudah saatnya prinsip-prinsip demokrasi, nilai-nilai Pancasila, dan spirit multikultural disinergikan sebagai upaya menciptakan masyarakat Indonesia yang berkeadilan dan sejahtera.

Sumber : Sinar Harapan, http://www.sinarharapan.co.id/content/read/demokrasi-pancasila-dan-spirit-multikultural/

*Oleh Ali Rif'an

Penulis adalah Peserta Sekolah Demokrasi Tangerang Selatan; Aktif di Komunitas Indonesia untuk Demokrasi


· · Bagikan
Selengkapnya...

Sabtu, 11 Juni 2011

Sedapnya Mie Instan, Sedapnya Hidup Instan

"Dengan kata lain kita tak mau kerja repot-repot untuk sekedar makan, ogah pergi ke pasar, beli cabe, bawang, sayur, beras, lauk-pauk, bawa pulang, diracik, dimasak, baru bisa makan. Kita sering tak sabar atau malas lalu membuat berbagai alasan—yang tak masuk akal. Tak sempatlah, tak pandailah, tak anulah, tak itulah, tak …"


SIAPA DI BUMI Indonesia ini yang tak pernah makan mie instan? Apalagi mie instan merek-nya pakai nama “Indo” itu. Bahkan, orang-orang di kampung saya sampai salah paham, dikirain nama mie yang satu itu adalah nama lain untuk mie instan. Jadi satu kali ketika ia membeli mie instan merek lain, dia menanyakannya ke penjual, “Buk ada “Indo” merek “Anu?”

Konyol lagi, Si Penjual malah menjawab: “Indo” merek “Anu” gak ada, Dik. Tapi “Indo” yang “Anu” ada!”

Hahaha…, Ya tak jadi masalah mereka mau bilang begitu. Saya mau balik ke soal awal; kita suka makan mie intan. Hmm, bisa dipastikan karena: instan. Cepat saji. Dan siapa saja bisa memasaknya. Kalau tak mau repot-repot mengolahnya, tinggal menyeduhnya saja dengan air panas, lalu diaduk dengan bumbu-bumbunya. Siap sudah. Tak sampai hitungan 10 menit, dan kita bisa menyantap mie yang lezat lagi nikmat.

“Slruppp!”

Memang yang serba cepat lan nikmat selalu diburu orang. Sikap begitu tak berhenti pada kesukaan pada mie instan semata. Semua mau cepat. Tak mau repot-repot walaupun kita bukan seorang Gusdurian yang berprinsip, “Begitu saja kok repot!” Kita mau cepat lulus sekolah, cepat dapat kerja, cepat sukses, dlsb tanpa mau bekerja keras. Dengan kata lain kita tak mau kerja repot-repot untuk sekedar makan, ogah pergi ke pasar, beli cabe, bawang, sayur, beras, lauk-pauk, bawa pulang, diracik, dimasak, baru bisa makan. Kita sering tak sabar atau malas lalu membuat berbagai alasan—yang tak masuk akal. Tak sempatlah, tak pandailah, tak anulah, tak itulah, tak …

Karena ingin lulus—tanpa mau belajar—mulailah kita melakukan usaha-usaha instan: minta bocoran soal sebelum ujian berlangsung, kalau tidak dapat minta jawaban dari teman, kalau kawan-kawannya pelit ya buka contekan. Kopekan. Atau apalah namanya. Kalau tidak juga, kita hitung kancing baju: ABCD-ABCD-an untuk memilih jawaban. Setelah kita berdoa kepada sesuai dengan agama dan keyakinan kita masing-masing.

“Ya Allah, luluskanlah hamba. Hamba telah berusaha semampu hamba!”

Ya, banyak juga yang lulus. Berhasil. Tapi namanya juga instan, ya hasilnya tak memuaskan, pun kalau nilainya tinggi ya itu tak asli—aslinya ya tetap dodol juga. Lah, bayangkan saja, kalau kita sarapannya mie instan pagi-pagi mestilah jam-jam 9-an sudah lapar lagi. Sudah keroncongan lagi. Iya apa tidak?—sejauh pengalaman saya: iya!

Dalam karir tak jauh beda. Mau langsung sukses. Tak perlu repot lamar kerja sana-sini, tapi ingin langsung bekerja. Kalau perlu langsung dapat jabatan yang basah: manager kek, direktur kek, atau apalah yang punya kuasa mengambil kebijakan. Sedapnya jalur instan—layaknya mie instan—selalu ada; tersedia dimana-mana. Siapkan uang sogokan kalau mau jadi PNS. Gitu juga waktu lamar jadi Polisi, Jaksa, Hakim; pakai orang dalam plus sogokan juga (konon orang dalam saja tak cukup).

Lalu jadilah kita PNS, jadi polisi, jadi Jaksa, jadi Hakim. Jangan lupa, dengan catatan: instan. Yang instan kan selalu memble. Maka tak heran kalau ada PNS yang sudah pulang jam 10 pagi—sekedar isi absen—ada Polisi yang suka “damai” di tengah jalan, ada Jaksa yang suka terima sogokan, dan ada hakim yang hobby membebaskan koruptor manakala kantog toganya sudah dipenuhi uang sogokan.

***

YA BOLEH DIBILANG kita ini bangsa mie instan (dan Soekarno benar kita bukang Bangsa Tempe). Dari rakyat kecil sampai yang tinggi sana suka mie instan. Dari buruh sampai presiden. Lihat saja, wong SBY juga waktu mau jadi presiden untuk kedua kalinya juga pakai cara-cara mie instan. Ingat saja jingel kampanyenya dulu yang memakai jingel mie instan merek “Indo” tadi. SBY sangat-sangat sadar kalau kita—rakyat Indonesia—suka mie instan.

“Terus Anda mau menuduh kebobrokan pemerintahan SBY sekarang gara-gara mie instannya itu?” tandas Anda.

Akh.., kalau itu Anda sendiri yang mengatakan. Saya cuci tangan (dulu): mie instan saya sudah siap, hahaha…

“Slrup!” [*]


Dikutip dari catatan Jimmie

Selengkapnya...