Jumat, 13 Mei 2011

Membunuh Tak Mematikan

TERBUNUHNYA Osama bin Laden 1 Mei lalu merupakan pencapaian besar bagi rakyat Amerika. Terlebih dialah orang yang paling dianggap bertanggung jawab atas peristiwa 11 September 2001 silam. Kini muncul pertanyaan, apakah dengan terbunuhnya pemimpin Al- Qaeda, berakhir pula terorisme global dunia? Mungkinkah ketenteraman akan terwujud?

Tidak. Tak ada jaminan sekali pun itu datang dari negara seadidaya Amerika. Seorang Osama mungkin bisa mati (secara lahiriyah) seiring dengan jasad yang dikubur di tengah lautan. Namun ajaran dan ideologi terorisme yang diusung akan tetap dan senantiasa hidup, terlebih bagi para penganutnya. Bahkan menginspirasi mereka dalam melakukan segala perlawanan.

Senada dengan yang pernah disampaikan KH. As’ad Said Ali, Wakil Kepala BIN, beliau menegaskan bahwa selama ada kehidupan, maka selama itu pula ada ideologi manusia. Karena itu, ideologi seseorang tidak akan pernah mati dan akan mempengaruhi tatanan kehidupan politik maupun ekonomi.

Adapun ketenteraman dan perdamaian dunia kini, masih jauh panggang dari api. Bukti bahwa negara seperti Amerika serta sekutunya kian khawatir dan berjaga-jaga atas segala kemungkinan akan datangnya balasan dari para militan Al Qaeda, buntut balas dendam pascaterbunuhnya pimpinan mereka.

Jika selama ini kekuatan militer dan senjata dijadikan ujung tombak penyelesaian terorisme, agaknya dunia mesti berpikir ulang ke depan. Bahwa ideologi yang berlatar belakang kekerasan akan senantiasa ada selama praktik ketidakadilan masih saja dilanggengkan dan sikap arogansi juga semena-mena merajalela.

Setiap tindak kekerasan (atas nama perdamaian) hanya akan melahirkan praktik kekerasan baru, dan bisa jadi lebih berbahaya. Perlu adanya kesadaran bersama untuk mengupayakan terwujudnya kedamaian dunia, karena membunuh bukan berarti mematikan.

Sumber

Abdullah Nuri
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Kependidikan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta(//rfa)
Selengkapnya...

Kamis, 12 Mei 2011

Pahlawan dan Tukang Sapu

Sekolah Tinggi Penghitungan Uang Negeri (STIPUN) tidak perlu dipertanyakan lagi keterkenalannya di banyak kalangan, apalagi bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, tempat ini bagaikan surga yang diidam-idamkan. Daya tariknya begitu memikat, dengan penawarannya akan ‘murah’ dan ‘terjamin’. Tawaran macam apalagi yang mampu menyaingi dua hal itu.

Nilai prestise tersemat bagi yang mampu memasuki STIPUN, karena tentu saja perlu perjuangan yang lebih untuk itu. Begitu juga dengan Gambun adanya.

Tapi ada yang sedikit berbeda dengan Gambun, dia terlebih cerdas dari lainnya. Jalan pikirnya lebih maju dari lainnya. Dan sulit diprediksi apa maksud sebenarnya ha-hal yang dilakukan.

Gambun adalah alumni dari STIPUN saat ini. Bahkan namanya terlebih terkenal dari STIPUN. Segala media massa memberitakan tentang dirinya. Segala kenalannya dari STIPUN mulai dari teman seangkatan, beda angkatan, dosen, semua pada terbeliak mendengar tentang dirinya. Begitu juga dengan tukang sapu STIPUN.

Tukang sapu ini merasa dirinya sudah merasa mengenal Gambun luar-dalam. Betapa tidak, kos-an Gambun masa mahasiswa sebelahan dengan rumah si tukang sapu, dan gambun orang yang mudah bergaul. Sering kali Tukang Sapu dan Gambun ngobrol tentang segalanya dan melakukan banyak hal bersama, dan dari situ tukang sapu dapat mendiskripsikan Gambun sebagai orang yang pintar-bahkan sangat pintar, sebagai orang yang religius-sering jama’ah bersama; ngaji bersama, dan sebagai orang yang nasionalis (peduli dengan negara)-mengutuk korupsi dalam negeri yang merajalela; mengutuk suap; mengutuk penipuan uang negara.

Jadi tingkat keterbeliakan tukang sapu ini lebih dari lain-lainnya. Pemberitaan-pemberitaan itu meruntuhkan segala imaji tukang sapu terhadap gambun. Pemberitaan yang sangat beterbalikan dengan sosok Gambun di pandangan tukang sapu, bahwa Gambun seorang penipu, bahwa Gambun koruptor, bahwa Gambun menerima banyak suap sana-sini. Hampir-hampir tukang sapu yang sudah lanjut usia ini semaput dibuatnya. Tapi menjadi tukang sapu selama hampir 40 tahun itu tidak lain karena daya tahan tubuhnya yang kuat dan selalu tampak sehat wal-afiat. Jadi yang seharusnya semaputpun tidak jadi.

Selama 40 tahun berkumpul dengan mahasiswa, walau sebagai tukang sapu, membuat dia juga selalu berfikir kritis akan segalanya, begitu juga saat ini.

“Ada yang salah, tidak mungkin itu Gambun yang aku kenal, kalaupun iya pasti ini fitnah,” pikir tukang sapu ketika melihat pemberitaan Gambun di TV.

Naluri tukang sapu yang tidak hanya sebatas berfikir, sepeti ketika dia melihat hal-hal kotor dan tidak pada tempatnya di kampus pasti akan secepatnya dibersihkan dan dikembalikan pada tempat yang wajar. Maka paginya, secepatnya tukang sapu berusaha mencari tempat penahanan Gambun.

Di LP ini tukang sapu mendapat ijin bertemu dengan Gambun. Dia melihat gambun, duduk di depannya dengan baju tahanan, sangat berbeda dengan Gambun yang selama ini berputar-putar dalam pikirannya. “Apa orangnya pun sudah berubah sebagaimana penampilannya?” pikir tukang sapu.

“Lho, Bapak yang jenguk?” tanya gambun, setelah salaman dengan tukang sapu.

“Iya, Bun. Tidak kamu sangka bukan?” Tukang sapu menimpali, dan bertanya balik.

“Hehehe, iya Pak. Ada apa, pak?”

“Langsung aja, Bun. Apa kamu masih Gambun yang bapak kenal?” tanya tukang sapu.

“Maksud Bapak? Saya selalu seperti ini, Pak. Gambun dulu dan Gambun sekarang tidak pernah berbeda,” jawab Gambun.

“Lantas bagaimana dengan tentang pemberitaan itu? Sampai-sampai kamu masuk di sini. Jelas sekali, kalau itu semua bukan Gambun yang bapak kenal,” kata tukang sapu

Gambun terdiam, menundukkan wajah dengan mimik muka berfikir serius. Tukang sapu-pun menunggu jawaban Gambun, sambil menatap wajah Gambun seakan ingin melihat perubahan-perubahan mimik wajahnya.

“Oh itu. Itu semua benar adanya, Pak,” jawab Gambun lirih, sambil menegakkan kembali kepalanya dan menatap mata tukang sapu.

“Tapi, saya masih Gambun yang Bapak kenal,” lanjut Gambun.

“Maksudnya?” tanya tukang sapu, dengan kebingungan akan apa dibalik ini semua.

“Pak, aku masih tidak berubah, bahkan tambah kuat pendirianku yang dulu itu. Aku sekarang tidak hanya mengutuk, bahkan ingin memangkas habis segala macam penipuan uang negara,” kata Gambun dengan mata berbinar-binar, seperti beberapa tahun lalu ketika membicarakan tentang pendirian.

“Tapi yang kamu lakukan itu tidak menceminkan semuanya, Bun?” tanya tukang sapu masih bingung akan apa maksud dari Gambun.

“Itulah, Pak. Apa Bapak tahu cara untuk menyapu bersih itu semua?” tanya Gambun.

Tukang sapu hanya menggeleng-gelengkan kepala, walaupun tukang sapu, tapi untuk menyapu bersih penipuan uang negara tentu saja dia tidak tahu.

“Bapak tahukan dari pemberitaan, kalau aku disuap sana-sini, untuk melakukan hal ini-itu yang merugikan negara. Dari situ aku tahu siapa mereka, bagaimana mereka bertindak dan akhirnya aku akan bongkar mereka di pengadilan yang sebenarnya mengadiliku.”

“Jadi itu semua hanya akting untuk menipu mereka? Dan menjebloskan mereka ke penjara seperti kamu?”

“Tentu saja, Pak.”

Dan kembali, tukang sapu terbeliak hampir semaput, tapi tidak jadi.

Beberapa hari kemudian sebelum pengadilan, STIPUN mulai dikenal kembali dengan nama olok-olok Sekolah Tipu Negri, yakni sekolah yang mengajarkan tipu-menipu terutama menipu uang negara, dan dihubungkan dengan adanya Gambun. Untuk membuktikan hal tersebut, maka ada seorang wartawan berkunjung ke STIPUN. Untuk mewawancarai tokoh-tokoh di STIPUN mengenai hal tersebut.

Hasil wawancara tokoh-tokoh besar di STIPUN pada menolak dengan keras hal itu dan menyatakan kasus Gambun tidak ada hubungan sama sekali dengan STIPUN, bahkan ada yang menyatakan Gambun adalah produk gagal dari STIPUN.

Tapi sebelum si wartawan memutuskan keluar kampus, dilihatnya ada seorang tukang sapu yang begitu giat dan sambil tersenyum membersihkan halaman depan. Terbersit di hati wartawan untuk sekedar bertanya pada tukang sapu itu.

“Salam, Pak”

“Salam, ada apa mas?”

“ehm, saya mau tanya-tanya ke Bapak boleh?”

“Silahkan saja” kata tukang sapu.

“Bapak kenal sama Gambun, yang sering di berita itu?” tanya wartawan.

“Wah tentu saja, orang-orang di sini pasti kenal sama dia,” jawab tukang sapu sambil tersenyum.

“Lantas menurut Bapak, dia orang yang bagaimana?” wartawan bertanya kembali.

Tiba-tiba sorot mata tukang sapu berubah serius dan berkata sambil melihat ke langit, seakan-akan ada sosok Gambun di atas sana.

“Gambun, dia itu sosok yang hebat. Belum pernah bapak bertemu orang sehebat dia, berani berkorban demi kemakmuran negara ini, dia seorang yang sangat baik, seperti Gambun yang bapak kenal waktu mahasiswa,” kata tukang sapu.

Kemudian tukang sapu menatap kembali pada wartawan, dan melanjutkan, “bagi saya, Gambun adalah sesosok pahlawan negara ini.”

Wartawan-pun terbeliak, dan karena wartawan bukanlah tukang sapu, diapun semaput di tempat.


Dikutip dari catatan Moham Fahdi

Selengkapnya...

Senin, 09 Mei 2011

Mahasiswa AKar Pembangunan Karakter Bangsa

Apakah karakter itu? Karakter ada yang mengartikan sebagai suatu sifat atau kepribadian yang dimiliki seseorang. Karater juga diartikan sebagai kekuatan dan respon terhadap sesuatu. Karakter juga menggambarkan suatu watak dan kebiasaan seseorang.

Kembali pada karakter, ada beberapa ilmuwan yang menjelaskan berbagai definisi karakter yang dihubungkan dengan moralitas seperti menurut Lawrence Kohlberg dalam bukunya The Psychology of Moral Development (1927) menyimpulkan hasil penelitian empiriknya terhadap perkembangan moralitas anak-anak dari berbagai latar belakang agama, yaitu Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, dan Islam, bahwa agama dan institusi agama tidak memiliki pengaruh terhadap perkembangan moral seseorang, penelitian Kohlberg dikenal dengan teori kognitif-developmental, yaitu 3 (tiga) tingkatan dan 6 (enam) tahapan perkembangan moral yang menegaskan bahwa pada intinya moralitas mewakilil seperangkat pertimbangan dan putusan rasional yang berlaku untuk setiap kebudayaan, yaitu prinsip kesejahteraan dan prinsip keadilan. Menurutnya, prinsip keadilan merupakan komponen pokok dalam proses perkembangan moral yang kemudian diterapkan dalam proses pendidikan moral.

Pendekatan Kohlberg yang sangat empirik tersebut tidak mempertimbangkan potensi suci (homo devinans and homo religious) yang dimiliki oleh setiap manusia yang sangat berpengaruh dalam proses perkembangan moral dan pembentukan perilaku. Kohlberg lebih menitikberatkan pada adanya interaksi sosial dan perkembangan kognitif seseorang. Ini dapat dimaklumi sebagai tradisi ilmiah Barat yang hanya menumpukan pada konsep empirisme, apa yang terlihat oleh analisis penelitian.

Kemudian Sigmund Freud memiliki pendapat tentang potensi pada diri manusia yang sangat berpengaruh terhadap karakternya, yaitu: id, ego, dan superego (es, ich, ueberich). Menurutnya, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psiko-seksual tertentu pada enam tahun pertama dalam kehidupannya. Berdasarkan teorinya tersebut, Freud menyimpulkan bahwa moralitas merupakan sebuah proses penyesuaian antara id, ego, dan superego.

Di dalam Islam, Al-Ghazali memiliki pandangan unik tentang pebentukan karakter manusia dalam kitab al-Maqshad al-Asna Syarh Asma Allah al-Husna (tt). Ia menyatakan bahwa sumber pembentukan karakter yang baik itu dapat dibangun melalui internalisasi nama-nama Allah (asma’ al-Husna) dalam perilaku seseorang. Artinya, untuk membangun karakter yang baik, sejauh kesanggupannya, manusia meniru-niru perangai dan sifat-sifat ketuhanan, seperti pengasih, penyayang, pengampun (pemaaf), dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, sabar, jujur, takwa, zuhud, ikhlas beragama, dan sebagainya. Sumber kebaikan manusia terletak pada kebersihan rohaninya dan taqarub kepada Tuhan. Karena itu, Al-Ghazali tidak hanya mengupas kebersihan badan lahir tetapi juga kebersihan ruhani.

Dari beberapa definisi para ahli tentang apa itu karakter, maka dapat disimpulkan karakter manusia meliputi dua hal baik dan buruk. Dan setiap tokoh memiliki karakter yang bisa dijadikan penutan.

Kata cendekiawan berasal dari Chanakya, seorang politikus dalam pemeritahan Chandragupta dari Kekaisaran Maurya. Cendekiawan atau intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, mengagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Oleh karena itu, cendekiawan sering dikaitkan dengan mereka yang lulusan universitas. Namun, Sharif Shaary, dramawan Malaysia terkenal, mengatakan bahwa hakikatnya tidak semudah itu. Ia berkata:

Belajar di universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi cendekiawan… seorang cendekiawan adalah pemikir yang sentiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah seseorang yang mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umum untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang intelektual juga seseorang yang mengenali kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran itu, meskipun menghadapi tekanan dan ancaman, terutama sekali kebenaran, kemajuan, dan kebebasan untuk rakyat.”

Dari uraian tersebut artinya kita sebagai mahasiswa tidak cukup hanya menyelesaikan semua tugas-tugas kampus, dengan title mahasiswa, menjalani hari-hari dan lulus dengan menyandang gelar sarjana… cukupkah? Inilah yang harus kita rubah, bahwa kita perlu merombak orientasi kita. Kita sebagai penerus bangsa. Tidak ada salahnya berfikir besar, karena kita sebagai cendekiawan harus mampu menhasilkan karya yang bisa berguna di masyarakat. Di Kampus dapat kita ikuti program PKM sebagai wujud andil kita sebagai mahasiswa yang cendikiawan.

Mandiri sering juga disebut dengan tidak bergantung, menjadi mandiri adalah sebuah proses. Kita yang sangat bergantung dari bantuan orang tua, maka mulai dari sekarang kita harus mulai belajar menjadi mandiri. Apakah hanya secara financial? Tidak… kita harus bisa mandiri secara utuh, artinya kita mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi baik masalah pribadi, maupun masalah-masalah umum.

Berhati nurani, kita sadar tiap manusia memiliki hati (perasaan), namun dalam pembentukan karakter masih ditambahkan dengan kata nurani, nurani berasal dari bahasa Arab, yaitu “nĂ»ran” atau “nur’aini” yang artinya cahaya, atau cahaya mata. Dua kata ini umumnya digabung yang berarti hati yang bercahaya atau cahaya mata hati. Di dalam bahasa Indonesia juga dapat berarti lubuk hati yang paling dalam atau di sebut juga sebagai kata hati.

Imam Ghazali mengibaratkan hati nurani sebagai kaca cermin. Bagi orang yang tidak pernah berbuat salah, maka nuraninya bagaikan cermin yang bening. Sehingga sekecil apapun noda di wajah, segera akan tampak di cerminnya. Adapun orang yang kerap melakukan kesalahan-kesalahan kecil, maka nuraninya bagaikan cermin yang terkena debu. Wajahnya masih tampak, namun noda-noda kecil sudah tidak tampak karena kotornya sang cermin. Sedangkan pelaku kejahatan besar maka nuraninya akan gelap, seperti cermin tersiram cat hitam. Mungkin hanya sebagian kecil saja dari cerminnya yang bisa digunakan untuk bercermin. Karenanya seorang penjahat atau pembohong kerap tidak merasa dirinya bersalah, karena cermin hatinya sudah tidak bisa menampakkan gambar apa-apa.

Coba kita ingat jika kita menggunakan uang ibuk kita tanpa izin maka ada perasaan kurang enak, atau kalau kita berbohong keluar malam untuk sesuatu hal yang tidak penting, coba ingat pula ketika kita berjanji namun kemudian kita mengingkari, ingat pula ketika kita melihat orang tua renta yang mengigil kedinginan karena kehujanan sementara kita membawa paying,jika kita merasa kurang nyaman itulah hati nurani yang berbicara.

Nurani dalam diri manusia berfungsi sebagai kotak hitam (black box) untuk merekam segala cerita dan kejadian hidup. Dimensi waktunya mencakup waktu dulu dan yang sedang terjadi sekarang. Selain itu nurani berfungsi sebagai ‘radar’ untuk mendeteksi pengaruh baik dan buruk yang datang dari dalam maupun luar diri manusia, yang kemudian disesuaikan dengan mengikuti fitrahnya, yaitu menerima kebenaran. Inilah perlunya kita mengasah hati nurani. Semoga kita menjadi mahasiswa yang cendikiawan, mandiri dan berhati nurani. Amin

Di kutip dari catatan "Arum Yunita Murwaningsih"


Selengkapnya...

Jumat, 06 Mei 2011

KISAH TRAGIS DIBALIK "LAGU HYMNE GURU" oleh Epri Tsaqib

Siapa yang tak kenal lagu ini lirik himne guru berjudul Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, ini sangat sering terdengar di telinga kita. Masih terngiang betapa di era 1980-an, lagu ini sangat sering dinyanyikan di sekolah-sekolah. Sebab setiap upacara bendera pada hari Senin, lagu ini selalu dinyanyikan.

Istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” bahkan kemudian menjadi ikon yang disematkan kepada para guru. Siapa sangka bila “sang pahlawan” yang tanpa tanda jasa itu sejatinya dialami si pencipta lagu tersebut. Ya, Sartono, pencipta lagu yang juga guru itu di masa senjanya hidup dalam kesederhanaan. Laki- laki asal Madiun yang genap berusia 72 tahun, 29 Mei ini, tinggal rumah sederhana di Jalan Halmahera 98, Madiun.

Sejak ia mengajar musik di SMP Purna Karya Bhakti Madiun pada 1978, hingga “pensiun” pada 2002 lalu, Sartono tetap menyandang guru honorer. Ia tak punya gaji pensiunan, karena statusnya bukan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kawan-kawan sesama guru sempat membantu mengajukan dia menjadi PNS. “Katanya sih sering diajukan nama saya, tetapi sampai saya pensiun dari tugas sebagai guru, PNS untuk saya kok tidak datang juga,” kata Sartono.

Sartono memang minder dengan latar belakang pendidikannya yang tak tamat SMA. Ia mengajar di SMP Purna Karya Bhakti, yang belakangan lebih dikenal sebagai SMP Kristen Santo Bernadus, berbekal bakatnya di bidang musik. Sartono yang beragama Islam itu melamar di Santo Bernadus berbekal sertifikat pengalaman kerja di Lokananta, perusahan pembuat piringan hitam di Solo, Jawa Tengah.

Hidup serba dalam kesempitan, tak membuat Sartono meratapi nasib. Ia merasa terhibur, dengan kebersamaan dengan Damiyati, BA, 59 tahun, isterinya yang guru PNS. Damiyati dinikahi Sartono pada 1971. Dari pernikahan mereka belum jua dikaruniai anak. Sehingga mereka mengasuh dua orang keponakan. Damiyati yang juga guru, juga seniman biasa manggung bersama Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, di masa mudanya.Kehidupan sehari-harinya kini hanya dari pensiun istrinya yang tak lebih dari dari Rp 1 juta. Sartono sendiri kala masih aktif mengajar, gajinya pada akhir pengabdiannya sebagai guru seni musik cuma Rp 60.000 per bulan. “Gaji saya sangat rendah, bahkan mungkin paling rendah diantara guru-guru lainnya,” katanya mengenang masa lalunya.

Kala masih kuat, Sartono menambal periuk dapurnya dengan mengajar musik. Sepekan sekali, Sartono yang pandai bermain piano, gitar, dan saksofon, ini rutin mengajar kulintang di Perhutani Nganjuk, sekira 60 kilometer dari rumahnya di Madiun.

BERMULA DARI LOKANANTA

Jalan menjadi guru berawal dari kegemarannya bermain musik. Putra sulung dari lima bersaudara ini sebenarnya lahir dari keluarga cukup berada. Maklum, ayahnya R. Soepadi adalah Camat Lorog, Pacitan. Sartono kecil memang suka bermain musik secara otodidak. Namun, hidup nyaman tak bisa dirasakan berlama-lama. Ketika ia berusia 7 tahun, Jepang menduduki Indonesia. Ayahnya pun tak lagi menjabat camat.

Sartono, bersama empat adiknya, Sartini, Sartinah, Sarwono dan Sarsanti, tak bisa mengenyam pendidikan tinggi. Ia sendiri putus sekolah kala kelas dua di SMA Negeri 3 Surabaya.

Ia kemudian bekerja di Lokananta, perusahaan rekaman dan produsen piringan hitam. “Saya Lupa tahun berapa itu, tapi saya hanya bekerja selama dua tahun saja,” kata Sartono, yang mengaku sudah susah mengingat tahun.

Selepas kerja di Lokananta, Sartono bergabung dengan grup musik keroncong milik TNI AU di Madiun. Ia bersama kelompok musik tentara itu pernah penghibur tentara di Irian. “Di sana selama tiga bulan,” jelasnya.

DARI SECARIK KORAN

Ihwal penciptaan lagu himne guru itu boleh dibilang tak sengaja. Ketika itu, tahun 1980, Sartono tengah naik bis menuju Perhutani Nganjuk, untuk mengajar kulintang. Di perjalanan, secara tidak sengaja ia membaca di secarik koran, mengenai sayembara penciptaan lagu himne guru yang diselenggarakan Depdiknas. Hadiahnya besar untuk saat itu, Rp 750.000. Waktu yang tersisa dua pekan, untuk merampungkan lagu.

Sartono yang tak bisa membaca not balok ini, mulai tenggelam dalam kerja keras mengarang lagu saban harinya. “Saya mencermati betul seperti apa sebenarnya guru itu,” jelas Sartono sambil memulai membuat lagu itu.

Waktu sudah mepet, lagu belum juga jadi. Sartono pusing bukan kepalang. Syairnya masih amburadul. Pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri, Sartono tidak keluar rumah. Ia bahkan tak turut beranjang sana mengantar istri dan dua keponakannya silaturrahmi ke orangtua dan sanak famili. “Saat itu kesempatan bagi saya untuk membuat lagu dan syair secara serius,” katanya. “Waktu itu saya merasa begitu lancar membuat lagu dan menulis syairnya.”

Awalnya, lirik yang ia ciptakan kepanjangan. Padahal, durasi lagu tak lebih dari empat menit. Sartono pun berkali- kali mengkajinya untuk mengetahui mana yang harus dibuang. “Karena panjang sekali, maka saya harus membuang beberapa syairnya,” jelas Sartono. Hingga muncullah istilah “pahlawan tanpa tanda jasa.”

“Guru itu juga pahlawan. Tetapi selepas mereka berbakti tak satu pun ada tanda jasa menempel pada mereka, seperti yang ada pada polisi atau tentara,” katanya.

Persoalan tak begitu saja beres. Lagu ada, Sartono kebingungan mengirimnya ke panitia lomba di Jakarta. Sebab ia tidak punya uang untuk biaya pengiriman via pos. “Akhirnya saya menjual jas untuk biaya pos,” katanya.

Sartono menang. “Hadiahnya berupa cek. Sesampainya di Madiun saya tukarkan dengan sepeda motor di salah satu dealer,” kata Sartono.

PENGHARGAAN MINIM

Lagunya melambung, Sartono tidak. Sang pencipta tetap saja menggeluti dunia mengajar sebagai guru honorer hingga “pensiun.” Kalaulah ada penghargaan selain hadiah mencipta lagu, “cuma” beberapa lembar piagam ucapan terimakasih. Nampak piagam berpigura dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo yang diberikan pada 2005. Pak Gubernur juga memberikan bantuan Rp 600.000, plus sebuah keyboard.

Piagam lainnya diberikan Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin pada 2000. Kemudian piagam dari Menteri Pendidikan Nasional Bambang Soedibyo pada 2005, plus bantuan uang. “Isinya enam ratus ribu rupiah,” kata Sartono.

Tahun 2006 lalu, giliran Walikota Madiun yang dalam sepanjang sejarah baru kali ini memberikan perhatian kepadanya. “Pak Walikota menghadiahi saya sepeda motor Garuda,” kata Sartono seraya menunjuk sepeda motor pemberian Walikota Madiun.Meski minim perhatian, Sartono tetaplah bangga, lagunya menjadi himne para guru. Pekerjaan yang dilakoninya selama 24 tahun. Pengabdian yang tak pendek bagi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

----------------------

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI PARA PAHLAWANNYA..!!!

Dikutip dari catatan Epri Tsaqib

Selengkapnya...

Rabu, 04 Mei 2011

Osama versus Obama oleh Ali Rif'an

Kematian pendiri sekaligus pemimpin jaringan teroris global Al Qaeda, Osama bin Laden, Minggu (1/5), mengundang perhatian besar masyarakat dunia. Osama tewas tertembak di bagian kepala dalam sebuah operasi militer rahasia yang digelar pasukan khusus AS di Kota Abbottabad, Pakistan. Seperti diberitakan media AS, New York Times dan televisi CNN, Osama langsung dikubur di laut.

Tak ada yang menyangka, Osama justru ditemukan dalam persembunyian di perumahan mewah di Abbottabad, bukan di sebuah goa di perbatasan Afganistan-Pakistan, seperti diduga selama ini. Bagi pasukan AS, mencari pesembunyian Osama tidaklah mudah. Militer dan intelijen AS telah mendeteksi keberadaan Osama sejak empat tahun lalu, dan baru April 2011 mereka menemukannya.

Osama bin Laden lahir pada 10 Maret 1957 di Riyadh, Arab Saudi. Dia adalah putra kontraktor dan pebisnis properti kaya raya bernama Mohamed bin Laden. Putra ke-17 dari 52 bersaudara ini meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas King Abdul Aziz, Jeddah yang kemudian dipercaya sebagai manajer di perusahaan bapaknya. Osama kecil tumbuh dari keluarga Islam fundamen. Dari bapaknya, ia mendapat warisan 250 juta dolar AS. Dari warisan itulah, Osama kemudian sukses mengembangkan perusahaan-perusahaan besar yang didirikan di berbagai negara. Terhitung sekitar 70-80 perusahaan milik Osama tersebar di mancanegara dengan nama samaran (Kompas, 3/5).

Tahun 1984, Osama mendirikan lembaga dakwah dan kamp militer yang dinamai Kamp Farouk. Kamp ini merupakan cikal bakal tempat latihan militer bagi sukarelawan Afganistan dan mancanegara. Osama kemudian merekrut banyak sukarelawan untuk digembleng mental, idiologi, serta militer. Tak pelak, mundurnya Uni Soviet dari Afganistan pada 1989 disebut-sebut sebagai jasa Osama. Pada 1998, Osama bersama Ayman Zawahiri melalui jaringan Al Qaeda memulai perlawanan terhadap negara-negara adidaya yang dianggap sering mengintimidasi negara-negara Islam. AS kemudian menjadi target utama.

Serangan-serangan yang kerap disebut-sebut dilakukan oleh jaringan Al Qaeda, antara lain: pengeboman Kedubes AS (7 Agustus 1998), serangan menara kembar WTC dan Pentagon AS (11 September 2001), bom Bali (12 Oktober 2002), pengeboman kereta api Madrid (11 Maret 2004), pengeboman angkutan London (7 Juli 2005), pengeboman Aljazair (12 Desember 2007), rencana bom pesawat kargo (29 Oktober 2010).

Kemenangan Obama

Tentu tewasnya Osama tak hanya menjadi kemenangan AS dalam perang melawan terorisme global, namun juga menjadi kemenangan besar bagi Presiden Barack Obama di pentas politik dalam negeri AS. Seperti dilansir The Washington Post, hanya dalam waktu sepekan, Obama berhasil mencetak tiga kemenangan berturut-turut terhadap lawan-lawan politiknya.

Kemenangan pertama saat ia berhasil membalik tuduhan bahwa dirinya tak lahir di wilayah AS dan tidak sah menjadi presiden AS. Obama berhasil mempermalukan telak tuduhan dari Donald Trump dan para simpatisan gerakan birther.Kemenangan kedua ialah saat ia dengan cepat merespon bencana tornado yang menewaskan lebih dari 350 orang di tujuh negara bagian AS, pekan lalu. Bagi Obama, kesalahan pendahulunya, Presiden George W Bush—yang lambat menangani bencana Topan Katrina (2005)—menjadi pelajaran berharga baginya. Obama kemudian mengunjungi lokasi terparah yang terkena bencana hanya dua hari setelah 137 tornado mengamuk Negara Bagian Alabama dan sekitarnya.

Dan, tentu saja kemenangan terbesar Obama ketiga adalah tewasnya Osama. Meskipun upaya membumihanguskan pemimpin jaringan Al Qaida ini dimulai pada era Presiden Bush, akan tetapi publik dunia tetap menaruh bangga terhadap prestasi signifikan kepemimpinan Obama dalam menggulingkan Osama. Karena itu, masyarakat internasional, seperti PBB hingga mantan Presiden Bush dan bakal calon presiden dari Partai Republik AS untuk pemilu 2012 memberikan apresiasi besar terhadap Obama.

Kegagalan Obama dalam mengatasi pengangguran, kenaikan harga bahan bakar minyak, dan perpecahan sengit politik dalam negeri AS belakangan seolah bisa diredam sejenak dengan terbunuhnya musuh bebuyutan AS, Osama bin Laden.

Dalam konteks Indonesia, kabar tewasnya Osama juga memberikan oase bagi sebagian besar masyarakat, khusnya bagi gerakan Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah. Ada dua alasan. Pertama, apa yang dilakukan Osama selama ini telah mencoreng nama Islam. Betapa tidak. Islam adalah agama yang sarat dengan nilai-nilai toleransi sekaligus menjadi rahmat bagi seru sekalian alam (rahmatan lil alamin), namun di tangan Osama, Islam tampak garang dan pekat dengan aroma kebencian. Islam identik dengan perang dan terorisme. Sebagai dampaknya, umat Islam yang hidup di negara mayoritas non-muslim selalu mendapat cibiran, hinaan, serta dimarjinalkan. Dus, Islam kemudian dianggap agama yang berbahaya dan harus dijauhi.

Kedua, secara historis, Osama adalah anak kesayangan yang pernah dibesarkan AS ketika mempersenjatai rakyat Afganistan menentang pendudukan Uni Soviet. Artinya, ada hubungan kausal yang kuat antara negara Obama dan Osama. Bisa jadi, serangan balik Osama terhadap AS tidak karena idiologi semata, tapi lebih kepada dendam Osama kepada Amerika karena merasa dicampakkan setelah Uni Soviet berhasil diusir dari bumi Afganistan.

Oleh karenanya, kematian gembong teroris Al-Qaida selayaknya kita jadikan sebagai babak penting bagi terbentuknya masyarakat Islam Indonesia yang santun dan toleran. Indonesia yang notabene negara mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia harus memberikan contoh ihwal wajah Islam yang penuh kehangatan, persaudaraan, dan cinta damai.

Gerakan-gerakan radikalisme seperti Negara Islam Indonesia (NII) dan lain-lain, jika konsep dakwah yang dipakai adalah kekerasan dan terorisme, mau tidak mau, harus segera dibumihanguskan dari bumi Pertiwi. Pemerintah harus cepat dan sigap dalam membaca gejala ini. “Osama Vs Obama” akan lebih menarik jika segera diganti dengan “NII versus SBY”.




Selengkapnya...

Senin, 02 Mei 2011

Hardiknas 2011 dan Radikalisme Agama

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hardiknas tahun ini ditandai dengan keprihatinan mendalam atas maraknya radikalisme agama yang ditengarai sudah merasuk ke kampus-kampus. Konon, tak sedikit mahasiswa kita yang berhasil tercuci otaknya oleh sekelompok orang yang ingin menjadikan negeri ini bukan lagi menjadikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, melainkan sebagai Negara Islam Indonesia (NII). Jika dugaan ini benar, mau dibawa ke mana bangsa besar yang multikultur dan multiagama ini? Bagaimanakah nasib saudara-saudara kita yang non-Islam jika harus menghuni sebuah negeri yang tidak lagi menolerir perbedaan? Dan jika kaum muda mahasiswa kita berhasil didoktrin aliran radikal semacam itu, jelas ini menjadi petaka buat bangsa kita yang sudah lama ber-Bhineka Tunggal Ika.

Oleh karena itu, sungguh tepat apabila tema Hardiknas tahun ini mengangkat kembali “Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa” dengan Subtema “Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”. Keprihatinan tentang degradasi moral dan involusi budaya yang melanda negeri ini memang sudah lama berlangsung. Kita lihat saja tawuran terbuka di jalan-jalan raya kota besar. Hampir sebagian besar kasus yang terjadi melibatkan kaum pelajar kita. Belum lagi mereka yang terperangkap dalam perilaku seks bebas, penyalahgunaan Narkoba, dan berbagai perilaku anomali sosial yang lain. Makin maraknya perilaku anomali semacam itu membuat sebagian besar masyarakat yang kehilangan sikap kontrol, bersikap permisif, dan cenderung melakukan proses pembiaran. Tawuran, seks bebas, kekerasan, atau perilaku kriminal dianggap sebagai hal yang wajar terjadi.

Kondisi semacam itu diperparah dengan miskinnya keteladanan para elite negara yang secara sosial seharusnya bisa dijadikan sebagai anutan. Korupsi berjamaah yang melingkar-lingkar sehingga menyulitkan aparat penegak hukum untuk mengusutnya hingga tuntas lantaran banyaknya kelompok kepentingan yang ikut bermain di dalamnya, ketidakpedulian sang pemimpin terhadap jutaan warganya yang terlilit kemiskinan dan terjerat dalam pengangguran, merupakan beberapa faktor yang ikut menyuburkan maraknya perilaku anomali semacam itu.
Gampangnya negeri ini disusupi berbagai paham dan ideologi radikalisme agama dinilai juga tak lepas dari situasi semacam itu. Dalam kondisi demikian, kita perlu kembali membangun kesadaran kolektif untuk merefleksi sekaligus mengejawantahkan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan Ki Hajar Dewantara yang kini “nyaris” tinggal jargon belaka itu, yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberikan contoh), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah-tengah rakyat mesti mampu membangkitan atau menggugah kehendak dan kemauan bersama untuk berbuat yang terbaik buat negara dan bangsa, dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan moral atau dorongan semangat buat rakyatnya).

Ki Hajar Dewantara adalah spirit zaman. Pandangan-pandangan visionernya yang senantiasa berakar pada nilai-nilai kearifan lokal menunjukkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tak bisa diraih hanya sekadar meniru-niru, apalagi bersikap latah, terhadap nilai-nilai barat yang dianggap lebih modern dan kosmopolit. Spirit inilah yang dinilai telah hilang di negeri ini. Bertahun-tahun lamanya bangsa kita silau oleh peradaban barat sehingga nilai-nilai kearifan lokal yang berbasis pada karakter dan kepribadian yang kuat telah lumpuh.

Maraknya perilaku destruktif, anarkis, dan radikalis, bisa jadi memang merupakan ekses ketidakberdayaan dunia pendidikan kita dalam menghasilkan keluaran pendidikan yang memiliki kecerdasan hati nurani dan emosi, spiritual, dan sosial. Meski demikian, rasanya juga tidak adil kalau dunia pendidikan dituding sebagai satu-satunya biang keladi yang menyebabkan degradasi moral dan involusi budaya telanjur parah di negeri ini. Sehebat apa pun dunia pendidikan kita melakukan intervensi tindakan yang simultan untuk mengakarkan nilai-nilai moral dan budi pekerti kepada peserta didik, tanpa diimbangi dengan keteladanan elite negara dan kokohnya masyarakat sebagai kekuatan kontrol, agaknya generasi masa depan negeri ini akan terus-terusan tenggelam dalam kubangan perilaku anomali semacam itu. Butuh sinergi dan kekompakan seluruh elemen negara untuk menyelamatkan anak-anak bangsa negeri ini dari ancaman kekerasan dan radikalisme.

Nah, selamat memperingati Hardiknas 2011, semoga semangat Ki Hajar Dewantara terus menjadi spirit zaman untuk membangun peradaban bangsa yang terhormat dan bermartabat.

Dikutip dari catatan Sawali Tuhusetya
Selengkapnya...